Main Risalah Cinta dan Kebahagiaan

Risalah Cinta dan Kebahagiaan

0 / 0
How much do you like this book?
What’s the quality of the file?
Download the book for quality assessment
What’s the quality of the downloaded files?
Year:
2012
Publisher:
Mizan
Language:
indonesian
Pages:
193
ISBN 13:
9786020989853
File:
PDF, 2.23 MB
Download (pdf, 2.23 MB)

Most frequently terms

 
0 comments
 

To post a review, please sign in or sign up
You can write a book review and share your experiences. Other readers will always be interested in your opinion of the books you've read. Whether you've loved the book or not, if you give your honest and detailed thoughts then people will find new books that are right for them.
1

Risking it All

Language:
arabic
File:
EPUB, 409 KB
0 / 0
2

Gz PRESS デジタル写真集 No.195 泉屋アイナ

Year:
2020
Language:
japanese
File:
PDF, 19.23 MB
0 / 0
RISALAH CINTA DAN KEBAHAGIAAN
Penulis: Haidar Bagir Copyright © Haidar Bagir, 2012
All rights reserved
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Penyelaras
aksara: Agus Susanto
Penata letak: elcreative
Penyunting Artistik: dhar76
Tim digitalisasi: Aida Kania Lugina
Cover art © Freydoon Rassouli
www.Rassouli.com
Diterbitkan oleh Penerbit Mizan
(PT Mizan Publika) Anggota IKAPI
Jl. Jagakarsa Raya, No. 40 Rt007/Rw04
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620
Telp. 021-78880556, Faks. 021-78880563
E-mail: redaksi@noura.mizan.com
www.nourabooks.co.id
ISBN: 978-602-0989-85-3
Buku ini pernah diterbitkan dengan judul Islam Risalah Cinta
dan Kebahagiaan, dan dicetak ulang sebanyak dua kali pada
Februari 2013.
E-book ini didistribusikan oleh:
Mizan Digital Publishing
Jl. Jagakarsa Raya No. 40, Jakarta Selatan - 12620
Phone.: +62-21-7864547 (Hunting), Fax.: +62-21-7864272
email: mizandigitalpublishing@mizan.com
Bandung: Telp.: 022-7802288
Jakarta: 021-7874455, 021-78891213, Faks.: 021-7864272
Surabaya: Telp.: 031-8281857, 031-60050079, Faks.: 0318289318
Pekanbaru: Telp.: 0761-20716, 076129811, Faks.: 0761-

20716
Medan: Telp./Faks.: 061-7360841
Makassar: Telp./Faks.: 0411-440158
Yogyakarta: Telp.: 0274-889249, Faks.: 0274-889250
Banjarmasin: Telp.: 0511-3252374
Layanan SMS:
Jakarta: 021-92016229, Bandung: 08888280556

Buku kecil ini saya persembahkan bagi anak-anak
saya: Muhammad Irfan, Mustafa Kamil, Ali Riza, dan
Syarifa Rahima dengan harapan semoga Allah
anugerahkan kepada kalian semua, cinta yang tulus
kepada Allah, kepada keluarga, sahabat, sesama
manusia, dan seluruh unsur alam semesta.

“Agama adalah mengenal Allah (ma’rifatullah).
Mengenal Allah adalah berlaku dengan akhlak (yang
baik). Akhlak (yang baik) adalah menghubungkan
tali kasih sayang (silaturahim).
Dan silaturahim adalah memasukkan rasa bahagia di
hati saudara (sesama) kita.”
—RANGKAIAN hadis yang dijalin oleh
Syaikh Yusuf Makassari

Pengantar

S

aya tak ingat, kapan perhatian saya mulai tertarik pada
persoalan cinta dalam agama. Sedang mengenai
kebahag; iaan,
meski
sesungguhnya
temperamen
sentimental saya tampaknya tak urung menciptakan
concern ini sejak lama, ia baru menguat ketika saya sempat
mengalami gejala depresi. Ya, saya memang sempat
mengalami gejala depresi.
Saya menduga gejala itu lebih terkait dengan faktorfaktor biologis atau hormonal. Maklum, saat itu saya baru
melewati usia setengah abad. Saya kira, itu sebuah gejala
yang biasa disebut orang andropause. Pasalnya, meski
hidup saya—sebagaimana hidup semua orang—bukannya
tak pernah sama sekali ditimpa masalah, saya merasa Allah
sangat banyak memberikan berkah kepada saya. Saya
merasa telah menjadi orang cukup berbahagia sepanjang
kehidupan saya. Oleh keluarga yang menbesarkan saya,
ataupun oleh keluarga yang saya miliki saat ini.
Alhamdulillah. Saya pun pada dasarnya adalah orang yang
agak ndablek dalam hal menghadapi masalah.
Betapa pun juga, gejala depresi adalah gejala depresi.
Saya harus mengatasinya. Saya pun menolak untuk pergi
ke dokter dan mengonsumsi obat-obatan pemulih mood.
Saya merasa, selama masih mampu, saya akan berusaha
mengatasinya dengan cara lain, sambil gejala ini
menghilang dengan sendirinya. Dan, alhamdulillah,
memang itulah yang terjadi. Saya mencoba untuk terus

kembali kepada Allah jika perasaan depresif yang amat tak
nyaman itu sesekali datang (dan, ada suatu masa dalam
hidup saya, sempat agak kerap datang). Saya pun berusaha
menimbuni berbagai kegelisahan spiritual saya dengan
mencoba
mencari
jawaban
terhadap
pertanyaanpertanyaan mengenai kegaiban yang belum bisa saya
jawab. Yang tak kalah penting, saya berusaha untuk terus
mengais-ngais makna yang bisa saya berikan kepada
kehidupan saya karena betapa pun gejala depresi selalu
melibatkan masalah tekor makna hidup. (Secara sepintas
mungkin perlu saya sampaikan di sini, relatif lancarnya
kehidupan saya, barangkali justru memberikan sumbangan
pada terciptanya gejala depresi saya karena—dalam satu
titik di kehidupan saya—saya merasa kehilangan
excitement. Segala yang saya harapkan dalam hidup saya,
sedikit-banyak, sudah saya capai. Maka, apalagi yang mau
saya kejar?).
Saya
pun
karena
temperamen
sentimental
itu,
sesungguhnya sudah sejak dulu gampang jatuh iba kepada
orang-orang. Bukan saja kepada orang-orang susah,
bahkan kepada orang-orang berada, yang hidup sejahtera
secara material di kota-kota—tetapi seperti kehabisan
makna hidup. Termasuk ketika beberapa kali saya
berkesempatan tinggal di Amerika. Entah hanya perasaan
saya saja, saya merasa sesungguhnya banyak orang yang
tampak sejahtera itu seperti kehilangan kegairahan hidup
karena tak cukup punya makna dalam hidupnya. Sejak dulu
saya selalu merasa ingin membantu orang mengatasi
penderitaan dan kesengsaraan, dan mencari makna bagi
hidupnya.
Saya kira, concern keagamaan dan akademik saya
kepada sejenis spiritualisme atau mistisisme Islam—
tasawuf—banyak juga menyumbang di sini. Mungkin secara
timbal-balik dengan temperamen sentimental saya itu.

Selain mencari jawab bagi kegelisahan spiritual saya,
concern utama tasawuf memang adalah menjawab dahaga
orang terhadap persoalan spiritual, tentang makna hidup:
dari mana, untuk apa, mau kemana. Di sisi lain, jika
dipelajari dengan benar, tasawuf adalah suatu pemahaman
spiritual atas agama yang didasarkan atas hubungan cintakasih timbal-balik antara manusia dan Tuhan, antara
manusia dan sesamanya, serta seluruh anggota alam
semesta.
Makin dalam saya mempelajari dan menginternalisasikan
secara eksistensial ajaran-ajarannya ke dalam diri saya,
makin yakin saya bahwa tasawuf adalah panacea bagi
problem-problem kemanusiaan zaman kita. Dan bukan saja
secara spiritual, tetapi juga dalam mengatasi konflik
berkepanjangan yang mendera umat manusia, masalah
intoleransi di segala bidang, kecenderungan nafsi-nafsi
yang makin mendominasi, juga merapuhnya ikatan
persaudaraan sesama manusia.
Maka, secara bertahap isu-isu kebahagiaan dan cintakasih mulai mendominasi berbagai wacana yang saya
usung, dalam segenap kiprah keseharian saya. (Sampaisampai, seorang pengamat asing, dalam suatu konferensi
nasional, pernah menyampaikan bahwa—ketika mendengar
saya bicara—dia seperti sedang menyimak ceramah
seorang pastor).
Hingga akhirnya, pada tahun 2008, saya diwawancara
Harian KOMPAS. Dalam wawancara tersebut saya
berbicara tentang pentingnya pergeseran paradigma
pemahaman keagamaan dari paradigma Islam sebagai
agama berorientasi hukum (nomos atau law oriented
religion) ke agama berorientasi cinta (love atau eros
oriented religion). Karena, seperti diungkapkan oleh para
fenomenolog
agama,
termasuk
Van
der
Leeuw,

sesungguhnya agama Islam tak kalah berorientasi cinta
dibanding agama Nasrani. Hal ini diperkuat oleh
Annemerie Schimmel yang mendapati bukti-bukti mengenai
hal ini dari karya para sufi di sepanjang sejarah pemikiran
Islam. Saya melihat bahwa ketidaktepatan paradigma
pemahaman ini telah menimpa bukan hanya orang-orang di
luar Islam, melainkan juga kaum Muslim sendiri. Hanya
dengan melakukan pergeseran paradigma ini Islam akan
dapat menampilkan wajahnya sebagai “rahmat bagi
semesta alam”, dan bukan seperti kenyataan sekarang
yang di dalamnya Islam lebih tampil sebagai agama politik
yang eksklusif, bahkan terkadang violent. (Meskipun, tentu
saja saya sadar bahwa citra Islam yang seperti ini
sebagiannya juga dibentuk oleh kesalahpahaman dan
penyalahpahaman
oleh
sementara
media
massa
internasional, khususnya media massa Barat).
Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan ringan saya
yang merupakan hasil renungan saya tentang kedua hal ini.
Cinta dan Kebahagiaan. Tadinya berupa dua kumpulan
tulisan terpisah. Namun, kemudian saya satukan karena
keterikatannya yang sangat erat. Dan, mengingat buku ini
mengaitkan
antara
cinta
dan
kebahagiaan
maka
pembahasan di bagian kebahagiaan dibatasi pada topiktopik yang terkait dengan hubungan cinta dan ridha
kepada Allah Swt. serta cinta kepada sesama manusia
sebagai sumber kebahagiaan. Tiga tulisan pendek saya di
bagian Pendahuluan, berusaha menjelaskan kedua hal
tersebut, seraya melihat keterkaitan di antara keduanya.
Sengaja saya tambahkan kisah-kisah bijak di setiap awal
judul. Beberapa cuplikan tulisan asli beberapa filsuf dan
sufi sengaja saya sisipkan juga untuk menambah bobot
buku sederhana ini, sekaligus memberikan suatu
pengalaman unik bagi pembaca dalam mengecap karya
para tokoh besar dalam sejarah pemikiran Islam tersebut.

Saya berharap buku sederhana ini akan dapat membantu
pembaca untuk merenung lebih jauh tentang makna
hidupnya, dan juga menjadi penolong di sepanjang jalan
kita—anak manusia—untuk meraih kebahagiaan sejati yang
merupakan dambaan kita semua.
Saya juga berharap, meski hanya sebuah karya populer
nonakademis, buku ini bisa memberikan gambaran kepada
pembacanya bahwa sesungguhnya, secara genuine, Islam
adalah agama yang berorientasi cinta-kasih. Bahkan,
orientasi hukum agama ini, betapa pun tak kurang penting,
harus ditempatkan dalam konteks orientasi cinta-kasih
yang memang berada di jantung agama ini.
Akhirnya, saya sampaikan terima kasih kepada
mizan.com yang telah sempat menerbitkan sebagian tulisan
saya dalam buku ini; Lite Fm yang telah beberapa tahun
memberikan kesempatan saya untuk meng-eksplor
masalah-masalah ini dalam acara setiap Jumat pagi (Lite is
Beautiful), Pak Cecep Romli yang membantu melakukan
suntingan serta menambahkan beberapa kisah bijak,
kepada segenap kru Noura Books yang membantu tetekbengek kegiatan pracetak, dan kepada Penerbit Mizan yang
telah bersedia menerbitkan buku ini.
Semoga Allah Swt. mau mencatat karya sederhana ini
sebagai amal jariah saya di jalan menuju keridhaan-Nya.

Haidar Bagir

Isi Buku

Pengantar

Bagian 1: Pendahuluan:
Meraih Bahagia

Menyelami

Cinta,

1. Memberi Kebahagiaan, Mendapat Kebahagiaan
2. Apa itu Kebahagiaan?
3. Bagaimana Meraih Kebahagiaan?
4. Kebahagiaan adalah Persoalan Makna
5. Manusia Berbakat

Bahagia
Bagian
Perjalanan Cinta

2:

Hidup

6. Kehidupan Manusia, Perjalanan Cinta
7. Cinta
—Ibn Hazm: Berbagai Bentuk Cinta
8. Allah Mahacinta
9. Segala Hal, Tanda Cinta
10. Cinta Allah, Cinta Manusia

adalah

11. Muhammad Nabi Cinta
12. Tali Cinta Manusia
13. Cinta Lelaki-Perempuan
—Al-Ghazali: Mahabbah, Syawq, Musyâhadah,
Mukâsyafah, Mawâ‘izh, dan Zawâjir

Bagian 3: Sumber-Sumber Kebahagiaan
14. Kesucian Fitrah
15. Kedekatan kepada Allah Swt.
16. Melazimkan Zikrullah
17. Berakhlak dengan Akhlak Allah Swt.
—Al-Ghazali: Menggapai Puncak Kebahagiaan
Bersama Allah
18. Mengembangkan Ridha (I)
19. Mengembangkan Ridha (II)
—Ibn Miskawaih: Bagian-Bagian Kebahagiaan
20. Bersyukur dan Bersabar Menghadapi Ujian-Nya
21. Hidup dengan Akhlak Mulia
22. Menebar Amal Saleh
23. Menjadikan Kerja sebagai Passion (Cinta)
24. Menaklukkan Egoisme

25. Melawan Obsesi kepada Harta
26. Hidup Berorientasi Sedekah
—Al-Ghazali: Menakar Kadar Cinta Dunia
—Al-Razi: Cara Menggunakan Harta untuk
Mencapai Kebahagiaan Spiritual
Lampiran: Peperangan dan Kekerasan dalam Islam

Bagian 1:

Pendahuluan:
Menyelami Cinta, Meraih
Bahagia

1
Memberi Kebahagiaan, Mendapat
Kebahagiaan gama adalah
mengenal Allah (ma’rifatullah).
Mengenal Allah adalah berlaku
dengan akhlak (yang baik). Akhlak
(yang baik) adalah menghubungkan
tali kasih sayang (silaturahim). Dan
silaturahim adalah memasukkan rasa
bahagia di hati sesama kita.”

“A

Rangkaian hadis yang dijalin oleh Syaikh Yusuf Makassari
di atas sangat relevan dengan inti pembahasan buku ini. Ia
bukan saja mengandung kedua konsep—cinta (dalam hadis
di atas terungkap dalam gagasan tentang rahmah, kasih
sayang) dan kebahagiaan (terungkap dalam kata surur,
yang merupakan salah satu kata yang dipakai Al-Quran
untuk mengungkapkan gagasan tentang kegembiraan atau
kebahagiaan—di samping farah dan, yang lebih mendasar
lagi, sa’adah, thabah, serta falah1).
Pada kenyataannya, gagasan tentang kebahagiaan sangat
terkait dengan cinta dan kasih sayang. Bahkan, kita dapat
menyatakan bahwa memberi dan memberikan kebahagiaan
adalah hakikat dari cinta itu sendiri. Cinta tak lain dan tak
bukan adalah sumber dari keinginan untuk memberikan

kebaikan–yang mendatangkan kebahagiaan–kepada yang
dicintai. Sebagian ulama mendeskripsikan cinta sebagai
dorongan untuk selalu memberi. Mencintai adalah sebuah
prinsip menempatkan kebutuhan dan kepentingan kita di
bawah (atau setelah) kebutuhan dan kepentingan orang
yang kita cintai. Karena cinta, kita rela mengesampingkan
kebutuhan dan kepentingan kita demi terpenuhinya
kebutuhan dan kepentingan orang yang kita cintai. Inilah
filosofi dasar cinta dan kasih sayang. Ini berlaku bagi siapa
pun, bahkan bukan hanya terbatas pada makhluk yang
bernama manusia, melainkan juga hewan, tumbuhan,
benda-benda “mati”, tak terkecuali juga Allah, Tuhan
semesta alam. Meski tak memiliki karsa bebas sendiri,
sesungguhnya hewan, tumbuhan, bahkan benda-benda
“mati”, berada di alam semesta, tumbuh, beraktivitas
dalam rangka mengejar kesempurnaan, mengejar kebaikan
puncak yang mungkin dicapainya sesuai dengan potensi
(qadr, kadar)-nya masing-masing. Dengan kata lain, mereka
berada dalam suatu cara sedemikian, sehingga keberadaan
mereka dapat memberikan manfaat maksimum bagi
semesta. Kenyataannya, sudah merupakan suatu fakta
ilmiah bahwa alam secara ekologis berfungsi dalam
keseimbangan-maksimumnya.
Bahwa,
jika
keseimbangannya tak diganggu–oleh berbagai ulah
perusakan–alam akan memberikan manfaat atau kebaikan
maksimum kepada penghuninya: ... Tak akan kamu lihat
sesuatu yang tidak seimbang dalam ciptaan Yang Maha
Pengasih. Maka, lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat
sesuatu kekurangan di dalamnya? (QS Al-Mulk [67]: 3)
Manusia, lepas dari karsa bebas yang mungkin justru akan
mendistorsi fitrah-keberadaannya, juga diciptakan sebagai
susunan terbaik (ahsan taqwim) (QS Al-Tin [95]: 4).
Artinya, bukan saja ia mempunyai potensi dahsyat,
sesungguhnya potensi itu dikaruniakan oleh Tuhan untuk
melakukan kebaikan-kebaikan (hasanah, berasal dari kata
yang sama dengan ahsan). Sebagai khalifah-Nya dia

diharapkan untuk menjadi pembuat kebaikan (muhsin) dan
perbaikan (mush-lih, berasal dari akar kata yang sama
dengan ish-lah, perbaikan).
Pada puncaknya, kebaikan dan kebahagiaan jugalah yang
menjadi tujuan penciptaan oleh Tuhan yang Maha Pengasih
dan Penyayang. Hal ini, antara lain tampak dalam berbagai
ayat Al-Quran yang menjadikan kebahagiaan hidup–baik di
dunia maupun di hari kemudian–sebagai tujuan keberadaan
(penciptaan) manusia: Barangsiapa beramal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan, sedang mereka beriman,
kepada mereka kami akan memberikan kehidupan yang
baik, dan Kami akan memberi mereka pahala yang lebih
baik dari apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Nahl [16]: 97)
Ibn ‘Abbas, mufassir utama dari kalangan sahabat Nabi,
mengartikan ungkapan “kehidupan yang baik” (hayah
thayyibah) sebagai kebahagiaan (di dunia ini).
Memang, jika mengikuti–dan bukannya melanggar
fitrahnya–maka sesungguhnya manusia diciptakan untuk
kebahagiaan: Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka
setelah itu, Dia ilhamkan jalan keburukan (akhlak) dan
ketakwaannya. Pasti bahagia (aflaha) siapa yang
memelihara kesuciannya, dan pasti sengsara siapa yang
mengotorinya. (QS Al-Syams [91]: 7–10)[]

2
Apa itu Kebahagiaan?

R

asanya, tak ada satu pun makhluk manusia yang tidak
sependapat bahwa tujuan hidup manusia di muka
bumi ini adalah mencapai kebahagiaan (happiness,
sa’adah). Meski kebahagiaan bisa dipahami dalam berbagai
bentuknya–ada yang melihatnya sebagai bersifat psikologis,
ada yang intelektual, dan ada yang spiritual–semua sepakat
pada sifatnya yang menjadikan manusia merasa bukan
hanya bergairah, bersemangat, dan menikmati hidupnya,
melainkan
terutama
menebarkan
ketenteraman,
kedamaian, kepenuhan makna, dan kepuasan yang tak
menyisakan kekosongan. Sementara, penderitaan (misery,
syaqawah)
sama
dengan
kegelisahan,
kekacauan,
kehampaan makna, dan kekurangan yang menganga.
Perlu segera disusul, kebahagiaan tidak sama dengan
kumpulan kenikmatan (pleasure). Mungkin saja hidup
seseorang dipenuhi kenikmatan, tetapi dia tak bahagia.
Kebahagiaan juga bukan berarti ketiadaan kesulitan atau
penderitaan. Karena, boleh jadi penderitaan datang silih
berganti, tetapi kesemuanya itu tak merusak keberadaan
kebahagiaan. Inilah yang disebut sebagai underlying
happiness (kebahagiaan yang senantiasa melambari) hidup
kita.
Perlu dipahami juga, kebahagiaan tak sama dengan
kenikmatan sesaat, tanpa jaminan bahwa kenikmatan itu
tak akan segera berganti dengan perasaan hampa, tanpa

kebebasan dari kegelisahan terhadap prospek kehampaan
di masa setelah itu. Dengan demikian, kenikmatan itu tak
pernah betul-betul tertanam di dasar hati kita, melambari
segala pancaroba kejadian yang mungkin berlangsung di
sekitar hidup kita, sehingga ia terasa sebagai sekadar
sesuatu yang mengambang di kedangkalan permukaan
hidup kita. Begitu juga sebaliknya.
Dilihat
(dirasakan)
melalui
fondamen
underlying
happiness, apa saja yang terjadi di permukaan hidup kita
akan masuk ke hati sebagai sesuatu yang memberi makna
positif
kepada
diri
kita,
menenteramkan,
dan
membahagiakan. Dapat saja saat ini kita sedang tertimpa
kesulitan dan kesedihan, tetapi keyakinan bahwa
kehidupan kita bersifat baik, positif, dan menyejahterakan
tak akan terganggu karenanya. Kebahagiaan memberikan
bayangan kedamaian dan ketenteraman yang lebih lestari.
Ini sebabnya, sebagian orang mengidentikkan kebahagiaan
dengan “kebaikan-kebaikan yang lestari” (al-baqiyat alshalihat) sebagaimana difirmankan-Nya: Harta dan anakanak adalah perhiasan kehidupan dunia. Namun, kebaikankebaikan yang lestari adalah lebih besar ganjarannya di sisi
Tuhanmu dan lebih layak dijadikan harapan. (QS Al-Kahfi
[18]: 46) Memang, kebahagiaan tidak bersifat fisikal,
bahkan tidak psikologis—jika psyche dipahami secara
dangkal sebagai kumpulan gejala yang semata-mata
bersifat
conscious-serebral
belaka.
Kebahagiaan
sepenuhnya bersifat spiritual—meski tak mesti selalu sama
dengan hal-hal yang bersifat keagamaan-formal—yakni
terkait dengan hati. Spiritualitas adalah suatu daya dalam
diri manusia yang bukan hanya lebih tinggi dari daya
intelektual serebral, melainkan juga melampaui emosi dan
perasaan yang—betapa pun terkait dengan hati—masih
belum lagi mengatasi ketidakstabilannya, yang unsurunsurnya belum lagi terkombinasi dalam jumlah dan
ukuran yang seimbang, yang stabil. Memang emosi dan

perasaan memiliki semua unsur untuk stabil dan
mendatangkan
kedamaian,
ketenteraman,
dan
kebahagiaan, tetapi tak selalu kombinasinya terjadi dalam
ukuran yang seimbang.
Nah, terhadap emosi yang seimbang ini, tak ada satu pun
kejadian di luar hati kita yang akan mampu mengusik
keseimbangan yang sudah tercapai itu, yakni kebahagiaan
yang melambari ini. Tak ada suka cita yang terungkap di
luar kendali sehingga dapat memukul-balik dan membuka
kemungkinan bagi kesengsaraan setelahnya, tak pula ada
kesedihan yang terlalu besar sehingga dapat mengoyak
fondamen kebahagiaan kita. Tak ada kejadian apa pun
dalam pancaroba kehidupan yang dapat memberikan
pengaruh yang terlalu dalam sehingga mengusik
kebahagiaan kita. Persis sebagaimana batu yang dilempar
ke air yang dangkal akan menghasilkan riak yang besar,
sementara benda yang sama di laut dalam tak akan
merusak ketenangan permukaannya.
Memang kebahagiaan bersifat intrinsik, ada di dalam hati
kita, bukan ekstrinsik dan tergantung pada pancaroba
kejadian dalam kehidupan sehari-hari kita di luarnya. Bagi
yang telah meraih kebahagiaan-yang-melambari ini, apa
pun bisa terjadi dalam kehidupan “luaran” kita, tetapi rasa
kebahagiaan akan tetap lestari. Bagi orang-orang yang
memilikinya,
kenikmatan
dan
kesulitan
bersifat
sepenuhnya relatif. Keduanya tak memiliki maknaindependennya sendiri. Relatif terhadap underlying
happiness ini, sesungguhnya tak ada kesulitan. Begitu
tertempatkan di lambaran atau fondamen kebahagiaan ini,
semuanya
menjadi
unsur
yang
membahagiakan.
Kenikmatan dan kesedihan pun menjadi terbatas pada
penampakan-luar atau kemasan. Pada hakikatnya dia selalu
bermakna sebagai unsur kebahagiaan. Inilah, yang secara
populer, membuat banyak orang menyatakan: pada

puncaknya kebahagiaan (dan kesengsaraan) sesungguhnya
produk persepsi. Apa saja, jika ia kita persepsikan secara
positif, akan menyumbang kepada kebahagiaan kita,
meskipun penampakan-luar atau kemasannya lebih
menyerupai kesulitan. Sebaliknya, jika kita persepsikan
secara negatif, apa saja akan melahirkan kesengsaraan,
meski penampakan-luar atau kemasannya indah.
Bahkan, dapat kita katakan bahwa sesungguhnya
kesedihan adalah sesuatu yang niscaya agar kita dapat
mengidentifikasi dan merasakan kebahagiaan. Orang yang
tak pernah merasakan kesedihan atau kesusahan akan
kebal atau tidak sensitif terhadap kebahagiaan. Sekadar
kesusahan justru dapat menjadi latar belakang yang di
atasnya
kita
benar-benar
dapat
merasakan
dan
mengapresiasi kebahagiaan. Sayyidina ‘Ali karamallaha
wajhah pernah menyatakan, “Seseorang tidak akan
merasakan manisnya kebahagiaan (sa’adah), sebelum dia
merasakan pahitnya kesedihan (syaqawah).” Mungkin
bukan tidak pada tempatnya kita jernihkan di sini bahwa,
meski kata syaqawah sering dianggap sebagai lawan kata
dari sa’adah dan kata-kata lain yang mengungkapkan
kebahagiaan, ia tak pernah boleh diartikan sebagai
memiliki kemungkinan keabadian sebagaimana sa’adah.
Kasih sayang Allah sedemikian tak terbatas sehingga
menutup segala kemungkinan bagi syaqawah atau
kesengsaraan yang abadi. Betapa pun, syaqawah selalu
harus dilihat sebagai pendahulu bagi sa’adah. Dengan kata
lain, sa’adah adalah prinsip kehidupan manusia, sedang
syaqawah adalah pengecualian. Syaqawah diperlukan
sekadar sebagai tolok ukur, yang melaluinya orang bisa
mengidentifikasi dan mengapresiasi kebahagiaan. Paling
tidak, syaqawah juga hanya bisa dilihat sebagai sarana
Allah mengajar dan memberi pelajaran kepada kita agar
terdorong untuk menjadi lebih baik.

Pada kenyataannya, bahkan neraka pun harus dilihat
dengan cara demikian. Seperti dapat kita lihat dalam
berbagai ayat Al-Quran, selain melihat siksaan di neraka
sebagai alat pendidikan untuk menyucikan jiwa manusia
yang kotor, Allah selalu membuka kemungkinan bagi tidak
abadinya siksaan di neraka. Ayat di bawah ini adalah salah
satu contohnya: Maka, orang-orang yang sengsara
(menyandang syaqawah) itu, mereka kekal di dalam neraka
selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu
menghendaki .... (QS Hûd [11]: 107) Kenyataannya, bukan
saja langit dan bumi tidak abadi, bahkan–seperti,
dinyatakan oleh Ibn ‘Arabi–kata ganti milik “ha” dalam
ungkapan “khalidina fi ha” kembalinya kepada neraka,
bukan kepada siksa. Menurut ‘urafa’ seperti ini, boleh jadi
neraka akan abadi, tetapi siksaannya tidak. Demikian pula
halnya dengan syaqawah.[]

3
Bagaimana Meraih Kebahagiaan?

B

agaimanakah
cara
untuk
mengaktualkan
dan
memelihara
kebahagiaan
dalam
hidup
kita?
Kebahagiaan seseorang akan muncul ketika tidak ada
kesenjangan antara apa yang kita dambakan dan hasil atau
keadaan aktual kita.
Dalam kaitan ini, ada tiga bentuk usaha yang mungkin
diupayakan manusia untuk mewujudkan kebahagiaan.

Pertama, bekerja keras untuk mengupayakan dan
memenuhi apa saja yang kita dambakan dalam hidup ini.
Sedikitnya ada dua kelemahan dalam cara ini. Satu, ada
banyak kemungkinan bahwa kita tak akan pernah bisa
memenuhi seluruh kebutuhan kita. Dua, setiap kebutuhan
kita terpenuhi, selalu muncul kebutuhan baru. Manusia tak
akan pernah puas. Maka, dengan cara ini hampir bisa
dipastikan kita tak akan pernah merasa bahwa semua yang
kita dambakan dalam hidup ini akan terpenuhi. Cara ini tak
akan pernah membawa kebahagiaan.
Kedua, mengurangi atau menekan kebutuhan. Dengan
berkurangnya kebutuhan, kemungkinan tak terpenuhinya
kebutuhan kita menjadi makin kecil. Demikian pula
kemungkinan ketidakbahagiaan kita. Masalahnya, manusia
diciptakan Tuhan dengan dorongan untuk selalu rindu
meraih pencapaian-pencapaian baru yang lebih baik. Ini
adalah manifestasi dari sifat fitri manusia untuk mencapai

kesempurnaan, betapa pun kesempurnaan ini tak mungkin
benar-benar dicapainya. Jadi, sebelum benar-benar bisa
mendatangkan kebahagiaan, cara ini sudah bertentangan
dengan fitrah manusia. Dengan kata lain, cara ini tidak
realistis. Dan semua yang bertentangan dengan fitrah
manusia akan justru menjadi sumber ketidakbahagiaan.
Kedua cara di atas masih bersandar pada konsep
kebahagiaan ekstrinsik. Yakni, bahwa kebahagiaan hanya
dapat tercapai jika semua dambaan kita dalam hidup
tercapai.

Ketiga, memiliki sikap batin sedemikian rupa sehingga
apa pun yang terjadi atau datang pada diri kita selalu kita
syukuri. Membangun suasana batin yang ditopang dengan
sikap sabar dan rasa syukur yang kokoh seperti ini, akan
mampu
meredam
kondisi-kondisi
yang
berpotensi
menimbulkan kegelisahan dalam hidup. Poin ketiga ini
sama sekali tak menihilkan cara dalam poin pertama di
atas. Mari kita bekerja keras, mari kita kejar
kesempurnaan, sebatas kemampuan kita. Akan tetapi, at
any point in time kita bersabar dan bersyukur atas apa saja
yang telah kita raih, rela kepada apa saja yang
dialokasikan-Nya kepada kita. Kita akan menemukan
kebahagiaan dengan selalu berpikir positif dalam keadaan
apa pun, selalu mencari hikmah di balik setiap keadaan,
seburuk apa pun ia tampil dalam persepsi kita.[]

4
Kebahagiaan adalah Persoalan Makna
ak akan ada yang membantah
bahwa hidup di dunia terkait
dengan kesejahteraan fisik dan
materi, karena memang Tuhan telah
merancang manusia dengan balutan
fisik sedemikian, sehingga dia hanya
bisa survive dengan mengoperasikan
aspek-fisiknya itu. Namun, tak sulit
juga untuk sepakat bahwa pada
puncaknya kebahagiaan bersifat
ruhani. Kebahagiaan memang bukan
sekadar kenikmatan fisik, melainkan
ketenteraman dan kepuasan hati.
Karena itu, secara logis bisa
dikatakan bahwa kebahagiaan tak
mungkin bisa diraih dengan berhenti
pada memuasi kebutuhan fisik kita.
Mengapa? Karena, ada lebih banyak
kebutuhan ruhani kita yang tak ada
hubungannya sama sekali dengan
kebutuhan fisik kita. Bahkan, lebih

T

sering kebutuhan ruhani atau hati
kita tak selalu sejalan dengan
kebutuhan fisik, malah tak jarang
bertentangan. Misal, kebutuhan
mencinta. Dalam hal seperti ini, kita
justru mendapatkan kebahagiaan
(ruhani) dengan memberi kepada
orang-orang yang kita cintai, bukan
justru menuntut dan mengambil
darinya demi kepuasan egoistik kita.
Kalau pun ada kaitannya, makanan
bagi ruhani atau hati kita adalah
makna yang bisa kita saring dari
keterpenuhan kebutuhan fisik kita,
dan bukan kebutuhan fisik itu sendiri.
Memang, baik terkait dengan
kebutuhan fisik maupun kebutuhan
ruhani, kebahagiaan hidup manusia
berkait dengan produksi makna
dalam hidupnya, yakni yang sejalan
dengan kebutuhan ruhaninya,
ketimbang dengan aktivitas-aktivitas
konkret itu sendiri.

Sebagai suatu ilustrasi, kebutuhan fisik kita menuntut
kesuksesan. Yakni keterpenuhan kebutuhan-kebutuhan kita
akan kekayaan, popularitas, atau kekuasaan. Tapi, pada
kenyataannya, betapa berlimpah contoh yang di dalamnya
seseorang
justru
mengalami
kesengsaraan
ketika
mendapatkan semuanya itu? Penyebabnya tentu saja
ketakmampuan unsur-unsur kesuksesan hidup itu untuk
dapat menyuplai makna yang merupakan kebutuhan ruhani
kita. Maka, betapa banyak contoh orang-orang yang
tampak telah memenuhi berbagai kebutuhan kesuksesan
ini tapi hidupnya justru berakhir dengan depresi, bahkan
bunuh diri?
Dengan demikian, mudah kita simpulkan bahwa
kebahagiaan kita terletak dalam keberhasilan kita
mendapatkan sebanyak mungkin makna positif dari hidup
dan kehidupan kita, dari apa saja yang kita kerjakan dan
hasilkan. Defisit makna hidup, sebaliknya, merupakan
sumber kesengsaraan.
Sayangnya, dalam kenyataan, makna positif tak selalu
tersedia begitu saja. Betapa pun kita percaya bahwa
sesungguhnya kehidupan ciptaan Allah ini dipenuhi dengan
makna positif, kita terkadang harus mencari makna
tersebut. Kegagalan menemukan makna positif ini bukan
saja akan menyebabkan kehampaan makna, melainkan
malah dapat mencuatkan makna negatif, yang destruktif
bagi prospek kebahagiaan hidup kita.
Nah, sering kita, mendapatkan makna yang kita
butuhkan hanya dengan sedikit menggeser sudut pandang
kita
terhadap
semua
persoalan.
Yakni,
berbekal
persangkaan baik bahwa hidup ini diciptakan Allah dengan
penuh kebaikan, kita upayakan melihat setiap masalah dari
kaca mata yang positif. Bahwa, dalam peristiwa apa pun
sesungguhnya terkandung hikmah yang positif. Bahkan,

bahwa esensi semua peristiwa di alam semesta ciptaan
Allah ini bersifat positif dan membawa kebaikan untuk kita.
Untuk menjelaskan hal ini, tak ada ilustrasi yang lebih jelas
daripada apa yang pernah dikisahkan oleh Dr. Victor
Frankl, seorang psikolog yang dikenal luas dengan metode
logoterapinya.
Alkisah, menurut penuturan Dr. Frankl, datang ke tempat
praktiknya seorang laki-laki tua. Dari mimik muka dan
bahasa tubuhnya, tampak bahwa dia seperti sedang berada
dalam tekanan kesedihan yang luar biasa. Di hadapan Dr.
Frankl dia bercerita bahwa istri yang amat disayanginya,
yang telah menjadi menjadi pendamping hidupnya selama
puluhan tahun, baru saja meninggalkannya. Akibatnya, saat
ini dia merasa hidupnya sudah tak punya makna lagi.
Selama ini, setiap kebahagiaan dan kesulitan dia bagi
bersama istrinya. Tanpa istrinya, tak ada lagi yang bisa
menjadi tempatnya berbagi. Kalau saja bisa, mau rasanya
dia mati untuk menyusul istrinya.
Mendengar itu, Victor Frankl bertanya kepada laki-laki
yang malang itu; “Coba Anda bayangkan, apa yang akan
terjadi kalau istri Anda selalu bersama Anda, hingga Anda
mati meninggalkannya? Memang Anda tak akan mengalami
kesedihan luar biasa seperti yang Anda rasakan saat ini,
tetapi kira-kira apa yang akan terjadi dengan istri Anda jika
justru Anda yang lebih dulu meninggalkannya?” Laki-laki
itu terhenyak sambil berkata, “Jika itu yang terjadi maka
istri sayalah yang akan menanggung kesedihan yang luar
biasa karena saya tinggalkan.” “Nah,” kata Frankl,
“kematian istri Anda lebih dulu dari Anda, dan kesepian
yang
Anda
rasakan
sekarang
sebagai
akibatnya,
sesungguhnya bermakna bahwa Anda telah menyelamatkan
istri Anda dari mengalami kesedihan luar biasa seperti
yang
Anda
rasakan
sekarang.”
Mendengar
dan
merenungkan ucapan Dr. Frankl tersebut, tiba-tiba sebuah

kesadaran baru merasuki laki-laki itu. Tiba-tiba saja ia
sadar bahwa kesedihan yang dia rasakan sekarang
memiliki makna positif yang tak terkira besarnya. Yakni,
menyelamatkan istrinya dari kesedihan yang luar biasa
kalau saja ia yang terlebih dulu meninggalkannya. Maka,
kontras dengan sikap yang dia tunjukkan ketika datang, dia
meninggalkan tempat praktik Frankl dengan kebahagiaan
luar biasa.
Nah, apakah yang membedakan situasi ketika laki-laki itu
datang, dan ketika ia pergi dari tempat praktik Frankl?
Sesungguhnya tak ada perubahan situasi riil apa pun yang
dihadapi laki-laki itu. Namun, kalau sebelumnya dia datang
dengan kehampaan makna hidup, maka sekarang ia pergi
dengan kepenuhan makna hidup. Dan hasil yang luar biasa
itu terjadi hanya karena Dr. Frankl mampu mengajak lakilaki itu “sedikit” menggeser sudut pandangnya terhadap
persoalan kematian istrinya.
Sesungguhnya, kebahagiaan tak kurang dan tak lebih
dari persoalan keberadaan atau absennya makna dalam
apa saja yang kita kerjakan, dalam kehidupan kita. Maka,
hendaknya kita terus berusaha menyuplai kehidupan kita
dengan makna, dan menghindarkannya dari kehampaan.
Kebahagiaan kita sesungguhnya dipertaruhkan di sini. Dan,
dalam hal apa saja, semuanya itu tergantung sepenuhnya
atas diri kita sendiri. Asal kita memiliki kemauan, tak akan
pernah ada istilah jalan buntu di sini. Kehidupan yang kita
jalani, di alam ciptaan Allah, tak pernah kurang dari
hikmah atau makna positif ini. Seperti apa pun
kejadiannya, seburuk apa pun ia tampak pada pandanganawalnya. Orang yang memiliki sikap positif dalam
memandang hidup pasti akan dapat menemukan makna
dalam segala hal. Dan orang seperti ini punya peluang
lebih besar untuk bahagia. Sementara yang cenderung
bersikap negatif dan sinis, sesungguhnya dia sedang

menjerumuskan dirinya
diciptakannya sendiri.[]

ke

dalam

kesengsaraan

yang

5
Manusia Berbakat Bahagia

D

alam ajaran Islam, memang manusia diciptakan
dengan bakat dan tujuan-akhir kebahagiaan, bukan
kesengsaraan, sebagaimana mungkin diyakini oleh
sebagian aliran psikologi modern, seperti Freudianisme.
Jika hendak disejajarkan, ajaran Islam lebih sejalan dengan
Psikologi Positif (Positive Psychology), yang percaya bahwa
manusia berbakat berbahagia, dan bahwa tugas psikologi
hanyalah mencuatkan (meng-unleash) bakat berbahagia
itu. Ajaran Islam bertumpu pada prinsip kasih sayang
Tuhan Sang Pencipta sedemikian, sehingga seperti
psikologi positif, menolak model-model “psikologi bengkel”
seperti Freudianisme itu.
Sampai di sini, menjadi gamblang, bahwa kebahagiaan
terkait erat dengan kesiapan atau kesediaan—sebutlah
kemauan—untuk berbahagia. Untuk berbahagia, orang
harus siap-sedia untuk berbahagia, mau bahagia. Harus
memiliki sikap mental—atau tepatnya, sikap hati untuk
berbahagia. Dia harus mengembangkan persangkaan-baik.
Persangkaan baik kepada kehidupan, kepada Tuhan yang
menciptakan kehidupan. Bahwa sesungguhnya kehidupan
ini dirancang oleh Penciptanya dalam bentuk kebaikan,
yang lahir dari kecintaan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa,
jika dilihat dalam kaca-mata positif, dalam kesadaran akan
keseluruhan (wholeness), sesungguhnya kehidupan tak
memiliki sifat lain, kecuali kebaikan. Bahwa (apa yang
tampak sebagai) kesusahan sesungguhnya adalah kebaikan

(juga), hanya dia tersamarkan. Kesusahan sesungguhnya
tak lain dari kegagalan kita menembusi permukaan luar
atau kemasan saja, ketidakmampuan kita menangkap
makna
yang
terdalam
dari
kejadian-kejadian.
Ketidakberhasilan kita meraih makna di balik fenomena.
Bahwa sesungguhnya (apa yang tampak) sebagai kesulitan
dan kesusahan itu pada hakikatnya hanyalah pembuka
jalan bagi kebaikan yang lebih tinggi, pada kebahagiaan.
Bahwa, kalau pun kita mentok di tengah jalan untuk
mencapai kebaikan-kebaikan yang kita inginkan maka
sesungguhnya ia adalah semacam pembelokan (detour)
menuju jalan yang justru akan membawa kita kepada
pencapaian
kebaikan
yang
lebih
besar.
Bahwa
sesungguhnya, Tuhan telah menebarkan dalam kehidupan
manusia di muka bumi, tak terbatas jalan menuju kebaikan
dan kebahagiaannya. Ke mana pun kita mengarah dan
menuju, di situ terhampar jalan menuju kebahagiaan kita.
Nah, sikap hati seperti inilah yang harus kita
kembangkan, kita latih agar menjadi kebiasaan kita dalam
menjalani kehidupan, dalam melihat atau mempersepsi apa
saja yang terjadi di kehidupan kita. Ya, kebahagiaan
memerlukan latihan.

Bagaimana Cara Melatihnya?
Pertama, kuatkan kesadaran dan pengetahuan bahwa
hidup pada dasarnya adalah baik. Selalu lakukan refleksi
atas kehidupan kita, dan kehidupan sesama kita. Sama
sekali tak sulit melihat dengan hati yang terbuka, bahwa
sesungguhnya selalu saja ada hikmah atas apa saja yang
terjadi dalam kehidupan kita. Dan sesungguhnya,
kehidupan semua manusia, kapan saja dalam sejarah umat
manusia di muka bumi. Dan sesungguhnya keburukan

hanyalah sekadar konsep, sifatnya relatif. Jika kita
melihatnya secara parsial, bukan dalam keseluruhan maka
suatu kejadian bisa tampak (terasa) sebagai keburukan.
Akan etapi, jika kita tempatkan dalam suatu perspektif
yang komprehensif (menyeluruh) maka sesungguhnya ia
adalah suatu pendahulu (prekursor) bagi kebaikan yang
lebih besar. Lihatlah pengalaman hidup kita dengan pikiran
yang jernih, bacalah pengalaman hidup sesama kita, kapan
saja dan di mana saja. Maka, mudah-mudahan kita tak akan
gagal untuk memahami hakikat-kebaikannya. Makin
banyak kita meyakini hal ini, mudah-mudahan makin kuatmenancap kesadaran kita mengenai sifat-dasar kebaikan
dalam kehidupan ciptaan Tuhan ini.

Kedua, timbulkan kemauan. Sebetulnya ini bukan suatu
hal yang sulit jika kita sadari bahwa kebahagiaan kita
dipertaruhkan di sini. Cobalah untuk selalu melihat ke
depan, melampaui kejadian-kejadian itu sendiri. Ke mana
kiranya ia membawa kita? Apa makna-positifnya?
Kemudian timbulkan sikap mental (sikap hati) sabar dan
syukur. Selalu menerima apa saja yang datang kepada kita
dengan hati yang lapang. Bahwa segalanya datang dari
Tuhan, dan bahwa Tuhan selalu menyimpan maksud baik
dalam
segala
kebijaksanaannya.
Hampir-hampir
merupakan sisi lain dari koin yang sama, selalu
kembangkan sifat-hati syukur–berterima kasih–atas apa
saja yang datang kepada kita. Baik untuk kejadian-kejadian
yang di permukan tampak sebagai kesulitan—wujudnya
adalah kesabaran, dalam konteks keyakinan bahwa ia
sesungguhnya adalah pendahulu bagi kebaikan yang lebih
tinggi—maupun atas kebaikan-kebaikan yang datang
kepada kita, sehingga kita dapat bereaksi positif
kepadanya, dan menjadikannya benar-benar sumber bagi
sikap-sikap positif yang pada akhirnya benar-benar bisa
mendatangkan kebahagiaan kepada kita.

Ketiga, latihlah agar dalam diri kita terpatri kebiasaan
(habit) kebahagiaan. Selalu upayakan kesadaran-penuh dan
kendali atas kejadian-kejadian yang terjadi dalam
kehidupan kita. Setiap saat, selalu operasikan kesadaran
kita atasnya. Jangan pernah kejadian-kejadian itu
menguasai kita. Jangan biarkan kepanikan merampas
kewarasan kita. Setiap saat terjadi suatu kejadian yang
segera terasa tidak menyenangkan, coba cari maknanya,
merogohlah lebih dalam ke lubuk hati kita untuk dapat
menemukan makna positif darinya. Coba upayakan
hikmahnya. Coba terawang ke arah mana—yakni kepada
kebaikan apa—kejadian ini akan membawa kita. Lakukan
berkali-kali agar sikap seperti ini menjadi refleks kita
dalam menanggapi kejadian apa saja yang menimpa kita.
Jika sudah semua ini kita upayakan, kita bisa berharap
bahwa kebahagiaan akan selalu bersama kita tanpa kita
harus mengejarnya. Kenyataannya, kebahagiaan memang
selalu ada bersama kita, bersama kehidupan kita. Di mana
saja, bersama apa saja, ada kebahagiaan. Kebahagiaan ada
di hati kita. Hati kita memang diciptakan sebagai wadah
kebaikan, wadah kebenaran, dan wadah keindahan. Yakni,
total jumlah yang melahirkan kebahagiaan. Justru,
kebahagiaan akan mengelak jika kita kejar karena dia
tempatnya bukan di luar. Yang tidak di luar tidak bisa
dikejar. Yang di dalam hanya perlu kita sadari dan pahami.
Kita hanya perlu mengucapkan “selamat datang” kepada
kebahagiaan.

Catatan Akhir
Akhirnya, kiranya perlu kita ungkapkan juga suatu
hubungan lain yang menarik antara cinta dan kebahagiaan.
Seperti telah disinggung di awal pembahasan dalam bab

ini, cinta pada hakikatnya adalah kerinduan untuk
memberi.
Di
satu
sisi,
dikatakan
bahwa
cinta
mempersyaratkan
ketanpapamrihan.
Al-Quran
pun
menegaskan: Dan orang-orang yang telah menempati Kota
Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan)
mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang
berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka
berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS AlHasyr [59]: 9) Namun, jika hal ini berarti ketanpapamrihan
mutlak maka dari manakah lahir dorongan atau bahkan
kerinduan untuk memberi itu? Benar bahwa pemberian
yang didasarkan oleh rasa cinta yang sejati haruslah tulus.
Karena, jika tidak tulus maka apa bedanya dengan
egoisme, dengan narsisme? Bukankah esensi narsisme
adalah dorongan memberi dengan motif egoistik (ulterior
motive) untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri?
Bagaimana cara mengatasi kontradiksi ini?
Sebetulnya tak ada kontradiksi di sini. Pemberian yang
egoistik atau narsistik hanyalah terjadi jika kita mengharap
balasan dari orang yang menjadi objek pemberian kita itu.
Artinya, kita memberi sambil mengharap ada pengurangan
pada “milik” objek yang kita beri untuk kepentingan kita.
Akan tetapi, jika yang kita harapkan adalah kebahagiaan—
bagi yang menyadarinya, sesungguhnya merupakan
imbalan puncak dari kegiatan memberi yang tulus—maka
tak ada tuntutan pengurangan pada objek pemberian kita.
Kebahagiaan sumbernya adalah diri kita sendiri. Seperti
kita singgung di atas, kebahagiaan sejati bersifat intrinsik,
bukan ekstrinsik. Dalam hal ini, siapa pun tetap dapat
mempertahankan
ketanpapamrihan
dalam
ketulusan

memberi, tetapi pada saat yang sama tak kehilangan
dorongan untuk memberi karena memberi dengan
menjanjikan ganjaran paling tinggi yang semua orang
sepakat mengenainya.

“Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu kedudukan para
penyandang syahadah (syuhada’) dan kenikmatan para
penyandang sa’adah (su’ada).”
—Doa Rasulullah Saw.[]

1 Mengenai kata thabah, berasal dari kata yang sama
dengan thayyibah, yang bermakna kebahagiaan, lihat ayat
Al-Quran surah Al-Nahl ayat 97 dan penjelasannya di
bawah. Diskusi mencerahkan tentang makna falah sebagai
kebahagiaan,
baca
Jalaluddin
Rakhmat,
Meraih
Kebahagiaan, Simbiosa Rekatama Media, 2009, hal. 24-27.

Bagian 2

Hidup adalah Perjalanan
Cinta

6
Kehidupan Manusia, Perjalanan Cinta

Alkisah, terasinglah sebilah bambu dari rumpunnya, dan kini
ia lahir sebagai sebuah seruling. Ia dirundung duka dan
kerinduan yang tak berkesudahan. Setiap kali ditiup,
suaranya sendu menyayat hati. Rasa terpisah dari induknya
membuat dia menyanyi penuh duka dan kerinduan.

Dengarkan nyanyian sendu seruling bambu,
Menyayat selalu,
sejak direnggut dari rumpun rimbunnya dulu,
Alunan lagu sedih dan cinta membara
Rahasia nyanyianku, meski dekat
Tak seorang pun dapat mendengar dan melihat
Oh, andai ada teman yang tahu isyarat
Mendekap segenap jiwanya dengan jiwaku!
Ini nyala cinta yang membakarku,
Ini anggur cinta mengilhamiku.
Sudilah pahami betapa para pencinta terluka,
Dengar, dengarkanlah rintihan seruling…!

Dalam kisah ini, Jalaluddin Rumi mengibaratkan manusia
sebagai bilah-bilah bambu yang tercerabut dari rumpunnya.
Berasal dari Allah, kini kita terpisah dari-Nya. “Setiap orang

yang tinggal jauh dari sumbernya ingin kembali ke saat
ketika dia bersatu dengannya,” kata Rumi.
***

M

emang kehidupan manusia, walau tak banyak yang
menyadarinya, sesungguhnya adalah perjalanan
penuh kerinduan. Dimulai dari kejatuhan dan disambung
dengan keinginan pulang. Ya, kehidupan manusia
sesungguhnya adalah perjalanan pergi dan pulang, dari
suatu tempat berangkat (mabda’) menuju suatu tempat
kembali (ma’ad), yang tak lain adalah tempat-berangkatnya
juga: manusia bersumber dan berawal dari Tuhan untuk
berjalan kembali kepada Tuhan.

Innâ lil-lâh wa innâ ilai-hi raji’un; Sesungguhnya kita
bersumber/kepunyaan/bagian
dari
Allah,
dan
sesungguhnya kepada dialah kita akan kembali. (QS AlBaqarah [2]: 156) Kita tercipta–saya harus menyebutnya
sebagai
terpancar
(teremanasi)–dari
Allah,
tertempatkan ke alam dunia, demi mencari jalan pulang
kembali kepada-Nya.
Dalam kebijaksanaan (hikmah) Islam, satu siklus lengkap
perjalanan hidup manusia melewati dua busur yang
membentuk sebuah lingkaran penuh: busur turun (al-qaws
al-nuzul) dari Allah ke alam ciptaan; dan busur naik (alqaws al su’ud) dari alam ciptaan kembali kepada Allah.

Seperti difirmankan-Nya:

Tsumma danâ fa tadallâ. Fa kâna qâba qawsayni aw
adnâ; Maka Dia pun mendekat dan makin mendekat
lagi. Maka, jadilah jarak antara-Nya dan manusia
(Dengan Muhammad Saw. dalam perjalanan mi’raj,
sebagai representasinya) adalah dua busur panah, atau
lebih dekat lagi. (QS Al-Najm [53]: 8-9) Dalam kaitan ini,
kebahagiaan sepenuhnya terletak pada kelancaran
perjalanan pulangnya. Kodrat manusia adalah damai
dalam kasih sayang Tuhan, Sang Maharahman, Sang
Maharahim. Keterpisahannya adalah penderitaan dan
kesengsaraan. Meski tak banyak di antara kita
menyadarinya.
Kita
berjungkir-balik
mengejar
pencapaian
dan
kesenangan duniawi–menumpuk harta, meraih kekuasaan,
menangguk popularitas–sebenarnya adalah ketersamaran
terhadap kerinduan ini. Kita merasa akan mendapatkan

kasih sayang yang kita dambakan jika kita miliki semuanya
itu. Kenyataannya semua itu hanya fatamorgana.
Kebahagiaan kita, kepuasan kita, kedamaian kita tak
terletak di situ. Yang kita kejar sesungguhnya tak kurang
dari cinta yang sepenuhnya dapat kita andalkan. Cinta
yang Sempurna. Cinta Tuhan.
Maka, pertaruhannya terletak pada seberapa besar kita
bisa mendekati-Nya, dengan berusaha menjadi seperti-Nya.
Menjadi memiliki akhlak-Nya: berakhlak dengan akhlakNya (al-takhalluq bi akhlaq Allah), menjadikan hati kita
dipenuhi kasih sayang terhadap sesama. Karena, hanya
dengan mengembangkan kasih sayang kita baru memiliki
kesempatan mendapatkan kasih sayang-Nya. Kata pesuruhNya: “Man lâ yarham, lâ yurham; “Barangsiapa tak
menyayangi, tak akan disayangi.”
Dan kasih sayang-Nya terletak pada kasih sayang kepada
sesama manusia, kepada sesama ciptaan-Nya. Masih kata
Rasul-Nya: “Barangsiapa menyayangi yang di bumi, akan
disayangi yang di langit.”
Namun, senyampang perjalanan-jauh pulang kepada
Sang Sumber, dia bisa dapati tempat pulang di bumi, di
antara orang-orang yang menyayangi. Ibu, Ayah, saudara,
kerabat, dan sahabat. Mereka yang kita rasa menyayangi
kita setulus hati, yang cintanya bisa kita andalkan. Yang
kasih sayangnya sesungguhnya merupakan pancaran kasih
Tuhan, yang ke dalam hati mereka, Tuhan pancarkan kasih
sayang-Nya.
Merekalah
sumber
kebahagiaan
dan
kedamaian di dunia. Di setiap ada kesempatan, kita selalu
terdorong pulang kepada mereka. Sebaliknya, sebagaimana
arti-aslinya, keterasingan dari para kekasih kita adalah
laknat.

Hidup sesungguhnya adalah perjalanan kembali ke Allah
karena atas fitrah-Nya kita diciptakan (QS Al-Rûm [30]:
30). Kita tak lain adalah soul mate-Nya. Dan, di ujung
perjalanan, menunggu Kekasih-sejati kita, Allah Yang Maha
Pengasih, yang hanya dalam pelukan-Nya pupus sudah
semua kerinduan kita, yang di haribaan-Nya, penuh sudah
hasrat kita.

“Wahai jiwa yang tenteram.
Pulanglah Engkau ke Pengasuh-Mu
dengan rela dan direlai-Nya.
Maka, masuklah ke kelompok pemuja-Ku.
Maka, masuklah ke surga-Ku.”[]

7
Cinta

Alkisah, dua sejoli putra putri bangsawan dibakar api cinta.
Qais, nama pemuda itu, begitu rupa dimabuk asmara
sehingga yang teringat hanya kekasihnya, Laila. Saat mata
tak lagi dapat bertemu pandang, Qais terus menyusuri jalan
mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya.
Maka, orang pun menertawakannya dan memanggil dia
dengan julukan “si gila”, Majnun.
Cinta mereka terbentur oleh adat. Majnun pun kian lupa
diri. Anak hartawan ini jadi hidup layaknya seorang
pengemis. Tak pernah mandi, kumal, dan terasing dari
masyarakatnya hingga hidup terpencil bersama binatang
liar. Ia hanya meracau, bergumam syair cinta, dan berbicara
pada air sungai dan angin agar menyampaikan cintanya
kepada Laila. Sementara sang kekasih pun, di penjara
kamarnya, merana didera rindu yang tak berkesudahan;
sampai ia bersuami pun jiwanya hanya hidup dengan
Majnun.
Singkat cerita, Laila wafat, dan setahun kemudian Majnun
pun ditemukan terbujur tanpa nyawa di pusara kekasihnya
sehingga mereka dikubur bersebelahan seolah disatukan
kembali di alam keabadian.
Konon, masih menurut sahibul hikayat, tak lama setelah
itu seorang Sufi bermimpi melihat Majnun berada di sisiNya. Tuhan pun membelainya dengan penuh kasih dan

berkata, “Majnun, tidakkah kau malu memanggil-Ku dengan
nama Laila, setelah engkau reguk anggur cinta-Ku.” Ketika
bangun sang Sufi masih diliputi penasaran dengan nasib
Laila yang malang itu. Tuhan pun mengilhaminya bahwa
Laila lebih agung karena ia menyembunyikan segenap
rahasia cintanya di dalam dirinya.
***

D

alam bahasa Al-Quran, cinta disebut dengan hubb.
Kata Al-Qusyairi, penulis Rîsalah, hubb adalah cinta
dan kasih sayang yang paling murni, sebagaimana orang
Arab mengatakan habab al-asnân untuk menunjukkan
orang yang giginya putih-murni. Penulis Kasyf Al-Mahbûb,
Al-Hujwiri mengatakan bahwa hubb boleh jadi berasal dari
habb yang bermakna benih. Hubb bermakna demikian
karena ia bersemayam di benih-benih hati, tetap tak
tergoyah sebagaimana benih tetap berada di tanah dan
menjadi sumber kehidupan meski hujan-badai menerpa dan
panas matahari membakar. Hubb juga disebut demikian
karena kata itu berasal dari hibbah yang berarti benih
tetanaman. Cinta disebut hubb karena sebagaimana hibbah
adalah benih tanaman, ia adalah benih kehidupan.
Selain kata hubb atau mahabbah, kaum Sufi senang
menggunakan kata ‘isyq—yang juga merupakan akar kata
“asyik” dalam bahasa Indonesia. ‘Isyq berarti cinta yang
meluap-luap. Kaum Sufi senang menggunakan kata ini
boleh jadi karena ia menunjukkan cinta yang lebih
mendesak, atau karena pada tingkatnya yang belum
mencapai puncak, ia masih meluap-luap dan belum
mencapai ketenangan. ‘Isyq memang adalah persiapan
menuju hubb atau mahabbah.
Kemudian, ada wudd yang meliputi perwujudan konkret
rasa cinta itu, seperti jalinan mawaddah suami istri

melahirkan kemesraan. Sedangkan rahmah adalah kasih
sayang yang mendorong seseorang berbuat baik kepada
yang dikasihsayanginya. Seperti kasih ibu yang tanpa
pamrih kepada anak-anaknya. Namun, jika rahmah bisa
dipakai untuk manusia maka rahmân hanyalah untuk
menyatakan kasih sayang-Nya kepada segenap alam
semesta. Semua itulah cinta.
Hujwiri meriwayatkan bahwa Allah Yang Mahatinggi
mewahyukan kepada Nabi Isa a.s.: “Jika Kujenguk hati
seseorang dan tak Kudapati cintanya kepada dunia dan
akhirat maka Aku penuhi dia dengan cinta-Ku.”
Menurut Imam Al-Ghazali, cinta hanya dapat dilihat dari
akibat yang dihasilkannya. Lalu, apa tanda-tanda cinta?
Seperti dikatakan kaum ‘ulama’, cinta meruntuhkan
kesombongan merupakan sumber kekuatan dan pemusatan
perhatian,
melembutkan,
menghilangkan
pamrih,
menjadikan orang dermawan, dan penuh pemaafan.[]

Lampiran I:

Berbagai Bentuk Cinta1*
—Ibn Hazm

I

bn Hazm Al-Andalusi (994-1064), secara menarik
pernah memaparkan tentang aneka ragam bentuk
cinta: Aku pernah diminta untuk secara khusus
membahas cinta dan berbagai bentuknya. Semua bentuk
cinta bersumber dari satu rumpun. Cinta ditandai oleh
rasa rindu kepada yang dicintai, takut berpisah, harapan
untuk mendapatkan balasan cinta. Konon bahwa
perasaan itu berbeda-beda menurut objeknya. Namun,
sang objek berbeda-beda hanya karena hasrat si
pencinta, apakah hasrat itu sedang menguat, melemah
atau pupus sama sekali. Dengan demikian, cinta kepada
Allah Swt. merupakan cinta yang sempurna; itulah yang
menyatukan makhluk dalam mencari cita-cita yang sama.
Cinta—seorang ayah, anak, kedua orangtua, sahabat,
penguasa, istri, penolong, yakni orang yang menjadi
tempat berlabuhnya harapan, pencinta—secara generik
semuanya sama, semuanya cinta. Namun, ada perbedaan
pada masing-masing yang telah aku sebutkan. Yang
membedakan hanyalah besarnya cinta yang diilhami oleh
apa yang dapat dipersembahkan oleh sang kekasih. Oleh
karena itu, cinta dapat memiliki berbagai bentuk: Kita
telah menyaksikan banyak orang yang bunuh diri karena
anak-anak mereka, persis seperti si pencinta yang
menderita karena sang kekasih. Kita telah mendengar
tentang orang yang terbakar oleh rasa takut dan cinta

kepada Allah sehingga dia rela mati karenanya. Kita tahu
bahwa orang dapat menjadi pencemburu karena rajanya
dan temannya seperti cemburu karena istrinya, pencinta
karena kekasihnya.
Hasrat terkecil yang dirasakan pencinta kepada
kekasihnya adalah memenangkan cintanya, perhatiannya
dan
kedekatan
kepadanya—dan
tak
berani
mengharapkan yang lain. Inilah yang menjadi cita-cita
orang yang saling mencinta karena Allah Swt.
Tingkatan berikutnya adalah ketika cinta tumbuh
dalam
kebersamaan,
berbincang,
dan
saling
memperhatikan satu sama lain. Inilah tingkatan cinta
kepada seorang pria kepada raja, teman atau
saudaranya.
Namun, puncak yang dapat didambakan seorang
pencinta dari sang kekasih adalah memeluknya saat dia
menginginkannya. Inilah mengapa kita melihat seorang
pria yang benar-benar mencintai isrtinya mencoba
berbagai posisi dan tempat dalam bercinta, agar dia
merasakan bahwa dia sungguh-sungguh menjadi
miliknya. Dalam kategori inilah kita memeluk dan
mencium. Sebagian dari hasrat ini terdapat pada seorang
ayah terhadap anaknya dan mendorongnya untuk
(mengungkapkannya) melalui pelukan dan ciuman.
Semua yang baru saja kami sebutkan secara unik
merupakan fungsi hasrat (yang ekstrem). Jika karena
beberapa alasan, hasrat terhadap sesuatu ditekan, jiwa
akan berpaling kepada objek hasrat yang lain.
Oleh karena itu, kami dapati orang yang percaya
kepada kemungkinan berjumpa dengan Allah Swt.
merindukan hal itu, memiliki rindu yang mendalam

terhadapnya dan tak akan terpuaskan oleh apa pun
selainnya sebab itulah yang memang didambakannya.
Sebaliknya, orang yang tidak meyakininya tidak
mendambakan ekstase ini dan tidak menginginkannya
karena memang tidak berhasrat terhadapnya. Dia merasa
puas dengan melaksanakan shalat dan pergi ke masjid.
Dia tak memiliki ambisi yang lain.[]

1 Ibn Hazm Al-Andalusi, Psikologi Moral untuk Hidup Bijak
dan Bahagia, hal 84, Serambi, September 2005.

8
Allah Mahacinta

Suatu kali, seorang laki-laki yang baik sedang menghadapi
perhitungan (hisab) di hadapan Allah Swt. Karena banyak di
antara anggota keluarganya melakukan dosa-dosa, maka
dia memutuskan untuk menghadiahkan pahala amal-amal
baiknya kepada anggota-anggota keluarganya itu. Maka,
habislah tabungan pahalanya. Allah pun bertanya
kepadanya, “Sekarang dengan apalagi engkau dapat
berharap bisa selamat dari hisab-Ku?” Laki-laki itu
menjawab, “Dengan rahmat-Mu.” Karena itu Allah
memerintahkan para malaikat-Nya untuk memasukkan lakilaki tersebut ke dalam surga.
***

M

emang begitulah firman-firman-Nya mengajarkan;
Telah Kutetapkan atas Diri-Ku Kasih Sayang
(Rahmah). Kasih Sayang-Ku meliputi segala sesuatu.
Bahkan, seperti terungkap dalam sebuah hadis, “Tuhan
adalah Cinta.”
Dengan ungkapan yang berbeda, esensi Cinta Ketuhanan
ini disabdakan-Nya dalam sebuah hadis qudsi–yang
merupakan favorit para Sufi: “Aku ingin mengenalkan DiriKu bahwa Aku Pengampun, Penutup Aib, Yang Mahaindah,
Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Oleh karena itu, Aku
menciptakan makhluk supaya diri-Ku dikenal.”

Selanjutnya, dalam
diungkapkan-Nya:

suatu

hadis

qudsi

yang

lain

“Allah memiliki seratus rahmat. (Hanya) satu yang
ditebarkan-Nya ke atas alam semesta, dan itu sudah
cukup untuk menanamkan kecintaan di hati para ibu
kepada anak-anaknya.” Sehingga, “seekor induk kuda
mengangkat kakinya agar tak menginjak anaknya, dan
seekor ayam betina mengembangkan sayapnya agar
anak-anaknya berlindung di bawahnya.”
Fitrah suatu Zat Yang Penuh Cinta dan Kasih Sayang
adalah mengungkapkan kebaikannya itu, meluapkan kasih
sayangnya itu. Setiap peluapan kasih sayang membutuhkan
objek. Nah, dalam rangka peluapan kasih sayang-Nya
inilah, alam semesta tercipta. Yakni, sebagai objek
peluapan kasih sayang-Nya itu.

Aku
(awalnya)2
adalah
Perbendaharaan
Yang
Tersembunyi. Aku cinta (rindu) untuk diketahui. Maka,
Aku ciptakan alam agar Aku dikenali.
Jadi, sesungguhnya alam tercipta karena cinta, prinsippenggeraknya adalah cinta, pengikatnya adalah cinta.
Tujuan-akhirnya pun adalah cinta.
Dalam kaitan ini, tradisi Islam membagi sifat-sifat Allah
ke dalam dua kelompok: Jalal (tremendum, keagungan) dan
Jamal (fascinans, keindahan). Keduanya bersatu dalam Dia
sebagai Kamal (Kesempurnaan). Keagungan bersifat keras
dan tajam, menggabungkan sifat murka, kecongkakan,
kekerasan, dan sejenisnya. Keindahan di sisi lain adalah
sintesis dari belas kasihan, kemurahan hati, belas kasih,
dan sifat-sifat sejenisnya. Jalal membuat manusia taat dan
mematuhi hukum-Nya, sementara Jamal membuat manusia
terpesona dan jatuh cinta dengan-Nya. Kedua sifat ini, Jalal

dan Jamal (Keagungan dan Keindahan) juga disebut dengan
nama-nama ‘Adl dan Fadhl (Keadilan dan Kebaikhatian)
atau Ghadhab dan Rahmah (Murka dan Kasih sayang), atau
Qahr dan Luthf (Kekerasan dan Kelembutan).
Al-Quran menyebut Allah sebagai bersifat rahman dan
rahim (umumnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia
sebagai Yang Maha Pemurah dan Yang Maha Penyayang).
Akan tetapi, kata rahmah dalam bahasa Arab, yang kedua
kata-kata ini berasal, memiliki konotasi yang sangat
komprehensif yang terdiri dari cinta, kasih, berkah, dan
banyak lagi makna serumpun. Dalam prinsip cinta ini,
kepercayaan Islam secara keseluruhan dan cara hidupnya
diringkaskan. Salah satu kata yang digunakan Al-Quran
untuk menunjukkan cinta adalah wudd, yang dalam bahasa
Arab berarti bentuk tertinggi dari cinta, dan disebutkan
dalam Al-Quran: Sesungguhnya mereka yang percaya dan
melakukan hal-hal yang baik, Yang Pemurah akan
menentukan bagi mereka cinta. (QS Maryam [19]: 96) Di
sini rahmah (kasih) dan wudd (cinta) digunakan bersamasama. Di tempat lain dalam Al-Quran, wudd (cinta) dan
ghufran (ampunan) disebutkan secara bersamaan: Dan Dia
adalah Maha Pengampun dan Pencinta (QS Al-Buruj [85]:
14) Sedangkan rahmah (kasih) dan wudd (cinta) disebutkan
bersama-sama dalam ayat ini: Mintalah pengampunan dari
Tuhanmu
dan
kemudian
bertaubatlah
kepada-Nya
Sesungguhnya,
Tuhanku
adalah
Maha
Penyayang,
Pencinta. (QS Hûd [11]: 90) Al-Wadud adalah salah satu
dari nama-nama indah Allah yang berarti sumber Cinta. Dia
telah menganugerahi manusia dengan kapasitas tidak
terbatas untuk mengembangkan cinta. Hubb adalah kata
lain yang digunakan dalam Al-Quran yang juga berarti
cinta, sebagaimana dinyatakan dalam: ... Tuhan akan
mendatangkan orang yang Dia kasihi dan yang mengasihi
Dia. (QS Al-Mâidah [5]: 54) Sesungguhnya, cinta adalah
sifat hakiki Allah. Dia menekankan dalam Al-Quran bahwa,

Dia telah mewajibkan atas diri-Nya kasih sayang (QS AlAn’am[6]: 12). Juga, Kasih sayang-Ku meliputi segala
sesuatu (QS Al-A’râf [7]: 156), dan Sesungguhnya Tuhanku
adalah Yang Maha Pemurah, dan Yang Maha Penyayang
(QS Hûd [11]: 80). Selain itu, dalam beberapa hadis qudsi
Allah mengungkapkan dengan tegas bahwa ”Kasih sayangKu mendominasi Murka-Ku”.
Kasih sayangnya menerpa bintang-bintang di galaksi
yang paling jauh, sel-sel atau bahkan unsur kehidupan yang
lebih kecil dari itu, hewan, tanaman, bebatuan, apalagi
manusia. Manusia yang jahat sekalipun, apalagi manusia
yang baik. Tak ada sesuatu pun yang tercipta, tak ada
sesuatu pun yang terjadi, kapan saja, dan di mana saja,
kecuali itu adalah kebaikan, yang lahir dari kasih sayangNya.
Kita bisa menemukan lebih lanjut bahwa dalam Al-Quran
Dia menyatakan diri-Nya melalui nama-nama yang
termasuk dalam kelompok Sifat Memesona dan Indah-Nya
(Jamal) dalam ayat-ayat yang jumlahnya 5 kali lipat jumlah
ayat yang di dalamnya Dia menyatakan diri-Nya melalui
Sifat Dahsyat dan Agung-Nya (Jalal) [7]. Sejalan dengan itu,
Sifat Pembalas-Nya—yaitu Sifat yang melaluinya Dia
menghukum orang-orang berdosa—muncul hanya sekali
dalam Al-Quran, sedangkan sifat sebaliknya—Pengampun—
berulang sekitar 100 kali.
Memang, salah satu nama Allah, salah satu sifat-Nya
adalah Al-Wajid . Kata ini memiliki beberapa arti. Selain
memiliki arti cinta yang kuat, kata ini juga berarti
mewujudkan. Dapat disimpulkan dari sini bahwa ada
hubungan yang sangat erat antara cinta dan penciptaan.
Dinyatakan oleh Ibn ’Arabi bahwa, “Tidak satu hadis yang
disampaikan oleh para Nabi-Nya yang mengisyaratkan

Keagungan yang tanpa disertai oleh sesuatu dari
Keindahan untuk menyeimbangkannya.” Yakni, kenyataan
bahwa cinta dan belas kasih adalah prinsip-prinsip Allah
tidak meniadakan kenyataan lain bahwa Dia tidak tanpa
murka dan keadilan. Murka dan penerapan keadilan tentu
termasuk tindakan-Nya. Namun, itu semua adalah
manifestasi dari prinsip yang sama, yaitu cinta dan belas
kasihan. Adalah kasih dan belas kasihan terhadap manusia
yang membuat Dia menerapkan keadilan dan menegakkan
hukum. Artinya, sebagai bagian dari Sifat PemeliharaanNya (Rububiyah) atas manusia dan alam semesta.[]

9
Segala Hal, Tanda Cinta

Alkisah, seorang petani memiliki kuda yang sangat bagus.
Seorang hartawan sangat ingin membeli kuda itu. Harganya
tak tanggung-tanggung, 50 ribu dirham. Akan tetapi, sang
petani dengan sopan menolak karena dia pun menyukai
kuda tersebut. Banyak orang menyesali sang petani yang
tak menukar kudanya dengan uang sebegitu besar. Tak
dinyana, tak diduga, suatu hari hilanglah kuda si petani.
Maka, orang pun mulai menyalahkannya. “Mau dibeli
sebegitu mahal tak boleh, sekarang kuda pun raib.” Rugi
besar dia. Mendengar itu, sang petani berkata, “Yang aku
tahu kudaku hilang, tetapi aku tak tahu apakah aku menjadi
rugi karenanya.” Dia memilih bersabar.
Kenyataannya, beberapa hari kemudian kuda itu kembali,
sambil membawa bersamanya puluhan kuda liar yang
bagus-bagus. Sang petani bersyukur. Namun, sekali lagi
cobaan menimpanya. Karena sesuatu hal, suatu hari kuda
tersebut mengamuk dan menendang kaki anaknya yang
belia, sehingga kaki sang anak cacat. Sekali lagi orangorang menyalahkan si petani. “Coba saja kuda itu dijual, kau
akan dapat uang banyak, dan anakmu tak akan cacat.”
Lagi-lagi si petani menjawab, “Ya, anakku memang cacat,
tetapi aku tak tahu apakah itu merugikanku.” Sekali lagi si
petani memilih bersabar.
Tak lama setelah itu, datanglah serombongan tentara
suruhan raja untuk merekrut anak-anak muda menjadi

tentara yang akan dikirim ke medan perang melawan
musuh. Anak si petani tak jadi direkrut karena kakinya
cacat. Terbukti belakangan, banyak anak muda yang dikirim
ke medan perang menjadi korban jiwa. Maka, sekali lagi, si
petani pun bersyukur.
***

M

emang dari Tuhan yang Maha Pengasih, tidak ada
yang terpancar darinya, kecuali kebaikan. Bahkan
hal-hal yang tampaknya buruk sesungguhnya ada demi
terciptanya suatu kebaikan yang lebih besar, yakni dalam
rangka mewujudkan kasih-Nya atas alam semesta. Sekali
lagi, yang terlihat sebagai murka-Nya dalam kenyataan
adalah wajah lain dari rahmat-Nya. Dalam sebuah hadis,
Rasul Saw. bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba
maka Dia akan mengujinya.”
Sebelum yang lain-lain, Allah sendiri menyatakan bahwa
alam semesta dan manusia diciptakan dalam komposisi
atau bentuk terbaik, bahwa segala sesuatu dari-Nya adalah
baik, dan bahwa segala sesuatu yang buruk sebenarnya
buatan manusia atau, lebih tepatnya, distorsi atau korupsi
kebaikan Ilahi.

Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia dalam
bentuk terbaik .... (QS Al-Tin [95]: 4) ... dan (Terpujilah)
Dia yang menciptakan tujuh langit penuh harmoni
dengan satu sama lain, tidak ada kesalahan yang akan
kamu lihat dalam penciptaan Yang Maha Pemurah. Dan
palingkankah penglihatan kamu (atasnya) sekali lagi:
dapatkah kamu lihat cacat apa pun? Ya, palingkanlah
penglihatan kamu (atasnya) lagi dan lagi: (dan setiap
kali itu) penglihatan kamu akan kembali kepadamu,
benar-benar terpesona dan tertundukkan .... (QS AlMulk [67]: 3-4) Tuhan tidak akan dengan cara apa pun

menzalimi manusia, tetapi manusialah yang menzalimi
diri mereka sendiri dengan melakukan tindakantindakan yang merugikan diri mereka sendiri dan dunia.
Apa pun yang baik terjadi pada kamu adalah dari Allah,
dan apa pun bencana yang menimpa kamu adalah dari
dirimu sendiri. (QS Al-Nisâ [4]: 79) Sesungguhnya Allah
tidak akan menzalimi manusia, tetapi manusialah yang
menzalimi diri sendiri. (QS Yûnus [10]: 44) Dalam ayat
lain Allah Swt. dengan jelas berfirman: ... Tuhan tidak
pernah akan merusak (kebaikan) yang Dia telah
diberikan kepada sekelompok orang, kecuali mereka
sendiri merusak apa yang ada dalam diri mereka
sendiri. (QS Al-Anfâl [8]: 53)31
Sesungguhnya cobaan adalah cara Allah untuk
mengetahui tingkat (maqam) manusia dalam keimanan dan
menjadikannya siap memasuki surga, sebagaimana antara
lain Dia ungkapkan dalam firman-Nya: Apakah kamu
mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orangorang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh
kesulitan dan kesempitan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang
yang
beriman
bersamanya,
“Bilakah
datangnya pertolongan Allah.” Ingatlah, sesungguhnya
pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al-Baqarah [2]: 214)
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah bahkan pernah berfirman:
“Jika aku mencintai seorang hamba maka Aku turunkan
ujian (kesulitan dan kesempitan) kepadanya, agar ia
memohon kepada-Ku (agar ujian itu diangkat darinya. Dan
dengan cara ini dia mendekat kepada-Ku).”
Jadi, sekali lagi, seperti diungkapkan dalam hadis yang
dikutip di awal tulisan ini, sesungguhnya ujian tak lain
adalah tanda cinta-Nya.

Kiranya inilah, seperti terungkap di beberapa tempat
dalam Al-Quran, yang Allah maksudkan ketika menyatakan
bahwa betapa pun cobaan dan kesulitan di permukaan
tampak tidak menyenangkan, sesungguhnya di dalamnya
ada hikmah, bagi manusia yang tertimpa cobaan itu.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS AlBaqarah [2]: 216) Yang pasti, seperti tampak dalam ayat
sebelumnya, Allah akan memberikan pertolongan di
saat-saat yang tepat, apalagi Dia sendiri sudah berjanji:
Allah tidak membebani seseorang itu, melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. (QS Al-Baqarah [2]: 286)
Sebaliknya, Allah menjanjikan kebaikan bagi orangorang yang sabar dalam menerima cobaan: Dan
sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu
dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa,
dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang
apabila tertimpa musibah mengucapkan, “Kami berasal
dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.” (QS AlBaqarah [2]: 155-156).
Berita gembira itu, tak lain dan tak bukan, adalah makin
dekatnya perjalanan kembali kita kepada-Nya.
Pada analisis lebih jauh, bahkan sesungguhnya Allah tak
menciptakan neraka sebagai tempat penyiksaan yang di
dalamnya orang-orang yang berdosa mendapatkan
hukuman pembalasan. Sesungguhnya semua kesulitan
yang ditimpakan di neraka sebagai cobaan (bala’) yang
berfungsi bagi peningkatan kualitas seorang manusia, di
alam setelah kiamat tiba. Dan, mengingat semua yang
datang dari Allah Swt. adalah kebaikan maka hanya orang-

orang yang jiwanya kotor sajalah yang akan gagal melihat
kebaikan ini. Oleh karena itu, jadilah kebaikan itu terasa
sebagai siksa.
Dengan kata lain, manusia sendiri yang menciptakan
siksa bagi dirinya sendiri. Yakni, manusia yang memiliki
jiwa yang sakit atau kotor, akibat keburukan hidupnya di
dunia, gagal mengapresiasi kebaikan cobaan sebagai
pembersihan jiwa ini. Sama halnya dengan udara panas
bagi orang yang temperamen tubuhnya panas. Ia akan
terasa menyiksa. Akan tetapi, bagi orang yang temperamen
tubuhnya dingin, udara panas justru akan menghangatkan.
Dalam kaitan ini, perlu dipahami bahwa kata “siksa atau
siksaan” adalah terjemahan dari kata ‘adzab dalam bahasa
Arab. Kata ini berasal dari akar kata ’a-dz-b. Dari akar kata
yang sama bisa dibentuk juga kata ’adzb, yang justru
berarti “manis”, dengan kata lain sesuatu yang baik.
Bagaimana pun, fenomena neraka tetap berada dalam
kerangka kasih sayang Allah. Bukankah Allah sendiri
berfirman, “Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu.”
Maka, neraka pun tak terkecualikan darinya. Azab di
neraka, sebagaimana juga azab di barzakh—bahkan juga
cobaan (bala’) di dunia—tak lain adalah purgatorio (tempat
penyucian).
Yakni,
tempat
kotoran
jiwa
manusia
dibersihkan. Agar pada akhirnya manusia kembali siap
mempersepsi surga apa adanya. Yakni, sebagai sumber
kenikmatan. Masuk ke dalamnya, kembali kepada-Nya.
Memang, sebagian dari kaum Arif, azab di neraka
tidaklah abadi. Pertama, sebagian ahli menerjemahkan kata
abada dalam berbagai ayat Al-Quran yang menyebut hal
ini, bukan sebagai bermakna abadi, melainkan “berabadabad”. Betapa pun terasa lama, ia ada batasnya. Kalau pun
ia berarti abadi maka—antara lain, menurut Ibn ‘Arabi—
yang abadi adalah nerakanya, bukan siksanya. Kata ganti

ha dalam ungkapan khalidina fi ha abada (kekal-abadi di
dalamnya) adalah kembali kepada kata neraka (nar, yang
memang merupakan kata benda yang bersifat feminin),
bukan ‘azab (‘adzab, yang mengambil bentuk kata benda
maskulin). Dengan kata lain, kata khalidina fi ha abada
mesti diterjemahkan sebagai “(mereka) berada di neraka
secara kekal abadi”, dan bukan “mereka berada dalam
azab secara kekal abadi”. Ada saatnya neraka akan
kehilangan sifat membakarnya, persis seperti hilangnya
sifat membakar dan menyiksa dalam kasus Nabi Ibrahim
a.s.4
Bahkan, bukan tidak ada pendapat yang menyatakan
bahwa kelak Allah tak jadi melaksanakan janjinya untuk
menyiksa manusia. Karena, bukankah Allah sendiri
menyatakan: Dan balasan suatu kejahatan adalah
kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan
dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka
pahalanya dari Allah .... (QS Al-Syûrâ [42]: 40) Bagi yang
berpendapat seperti ini, jika Allah memerintahkan sikap
pemaaf seperti ini kepada manusia, mungkinkah Dia
sendiri tak melakukannya? Wal-lah a’lam bish-shawab.[]

10
Cinta Allah, Cinta Manusia

Tersebutlah seorang wanita salehah yang menjadi pelayan
di sebuah rumah. Ia senantiasa melaksanakan shalat
malam. Suatu hari, sang majikan mendengar doa-doa yang
ia baca dalam sujudnya. Katanya, “Ya Allah, aku mohon
kepada-Mu dengan cinta-Mu kepadaku agar Engkau
memuliakanku dengan bertambahnya ketakwaan di hatiku
… dan seterusnya.” Begitu ia selesai shalat, sang majikan
bertanya kepadanya, “Dari mana Engkau tahu kalau Allah
mencintaimu? Mengapa Engkau tidak kaukatakan saja, Ya
Allah, aku mohon kepada-Mu dengan cintaku kepada-Mu?”
Ia menjawab, “Wahai tuanku, kalau bukan karena cinta-Nya
kepadaku, mana mungkin Dia membangunkan aku pada
waktu-waktu seperti ini. Kalau bukan karena cinta-Nya
kepadaku, mana mungkin Dia membangunkan aku untuk
berdiri (shalat) menghadap-Nya. Kalau bukan karena cintaNya kepadaku, mana mungkin Dia menggerakkan bibirku
untuk bermunajat kepada-Nya.”
***

S

esungguhnya
Islam
memang
mempromosikan
hubungan penuh cinta kasih dan kerinduan di antara
manusia dan Tuhan–persis seperti hubungan perindu dan
yang dirindui (‘asyiq dan ma’syuq). Al-Quran pun
menegaskan bahwa seharusnya cintalah yang melandasi
hubungan antara manusia dan Allah: … Barangsiapa di
antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah

akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan mereka pun mencintai-Nya .... (QS Al-Maidah
[5]: 54) Juga, Orang-orang yang beriman itu, sangat dalam
kecintaan mereka kepada Allah. (QS Al-Baqarah [2]: 165)
Nabi, melalui doa yang diajarkan kepada Imam ‘Ali bin Abi
Thalib—sepupu, sahabat-terkasih Nabi, dan guru para Sufi
awal—dengan sangat indah mengungkapkan hal ini: “…
kalaupun aku sabar menanggung beban-penderitaan (di
neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kaukumpulkan aku
dengan para penerima siksa-Mu, dan Kauceraikan aku dari
para kekasih dan sahabat-Mu … kalaupun aku, wahai Ilâhku, Tuanku, Sahabatku, dan Rabb-ku, sabar menanggung
siksa-Mu, bagaimana kubisa sabar menanggung perpisahan
dengan-Mu ....”
Kiranya “keintiman” manusia dan Allah inilah yang
dimaksud dalam sebuah hadis qudsi yang sangat populer di
kalangan para Sufi, berikut ini: “Seorang hamba mendekat
kepadaku dengan menyelenggarakan ibadah-ibadah yang
Aku wajibkan atasnya. Kemudian, ia terus mendekat
kepadaku dengan (menambah ibadahnya) dengan berbagai
amalan sunnah, hingga Aku Mencintainya. Maka, Aku akan
menjadi matanya untuk melihat, telinganya untuk
mendengar, tangannya untuk memegang, kakinya untuk
berjalan, hatinya untuk berpikir, dan lidahnya untuk
berbicara; jika ia memanggil-Ku, Aku menjawabnya; jika ia
meminta kepada-Ku, Aku memberinya .... ”
Sesungguhnya, “hubungan penuh kecintaan” ini jugalah
yang dimaksud ketika Allah berfirman, Dan tidak aku
ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menghamba
(beribadah) kepada-Ku.
Ibn ’Abbas, salah seorang sahabat Nabi yang paling
berilmu, pernah menafsirkan kata li ya’budun (untuk
menyembah Allah) dengan li ya’rifun (untuk mengetahui

Allah). Dengan kata lain, adalah wajib, bahkan merupakan
inti tujuan penciptaan, bahwa kita harus selalu belajar
untuk mengenal Allah dengan sebaik-baiknya.
Para ulama dan kaum Sufi melanjutkan eksplorasi
tentang makna kata ‘ibâdah ini. Yakni, pemujaan. (Merujuk
padanan bahasa Inggrisnya, yakni to worship, kiranya juga
membantu memahami makna ini dengan lebih baik,
mengingat kata ini dapat diterjemahkan baik sebagai
menyembah maupun memuja. Bahkan juga mengidolakan,
menjadikan idola—ingat juga bahwa kata “idola” berasal
dari kata idol, yang bermakna sesuatu yang disembah,
berhala). Dalam bahasa Arab pun, kata ber-gender feminin
dari ma‘bûd (yang disembah)—yakni ma’budah—berarti
perempuan yang dipuja atau dicinta.
Kiranya pemberian arti ini mudah diterima, mengingat
kenyataan bahwa orang yang mencinta begitu butuh
kepada orang yang dicintainya sehingga ia siap melakukan
apa saja yang menyenangkan orang yang dicintainya.
Persis sebagaimana sikap seorang budak kepada tuannya,
seperti penyembah kepada yang disembahnya. Orang yang
mencinta memang, praktis, menyembah (menghamba)
kepada orang yang dicintainya.
Lebih dari itu, seperti terungkap dalam hadis kanz
(perbendaharaan) di atas, ada hubungan identitas antara
mengenali
(Allah)
dan
mencinta-Nya.
Bukankah
difirmankan-Nya di sana bahwa keinginan-Nya untuk
dikenali (u’raf) bersumber dari kerinduan atau kecintaanNya?
Nah, sudah seharusnya setiap manusia merindukan
hubungan dengan Allah yang diikat dengan kecintaan sejati
seperti ini. Manusia kepada Allah, Allah kepada manusia.
Yakni, ketika segenap kedirian serba-duniawi kita telah

sirna oleh mujâhadah (perjuangan keras membersihkan
hati dari kotoran akibat memperturutkan nafsu duniawi),
dan jiwa kita yang telah lebur (fanâ’) dan tinggal tetap
(baqâ’) menyatu dengan-Nya. Hubungan seperti ini adalah
puncak dari seluruh perjalanan spiritual manusia (kembali
kepada Allah).[]

11
Muhammad Nabi Cinta

Tersebut seorang perempuan tua miskin, bersahaja. Setiap
hari dia mengelilingi kota untuk mengerjakan apa saja, demi
mencari nafkah ala kadarnya bagi diri dan keluarganya.
Setiap sore, dia pun mendatangi sebuah masjid yang sama,
demi membersihkan halamannya, dengan memunguti
dedaunan yang rontok dari pepohonan yang rindang di
sana. Begitulah hari demi hari, minggu demi minggu, bulan
demi bulan, dan tahun demi tahun. Sehingga semua jamaah
masjid sudah tak lagi asing dengannya.
Perempuan itu pun menjadi makin tua dan uzur. Sehingga
suatu
hari,
jama’ah
masjid
mengambil
inisiatif
membersihkan halaman masjid dari daun yang berguguran,
dengan maksud membebaskannya dari pekerjaan yang
mungkin sudah mulai menjadi terlalu berat baginya.
Seperti biasa, hari itu sang ibu tua datang ke masjid.
Betapa kagetnya ketika ia mendapati halaman masjid telah
bersih dari rerontokan dedaunan. Dia pun menangis. Para
jama’ah terkejut, dan jatuh iba kepadanya. Ketika ditanya
apa gerangan yang membuatnya begitu bersedih,
perempuan itu menjawab. “Aku sudah tua, tak ada yang
bisa kulakukan untuk Kanjeng Nabi. Maka, setiap hari
kupunguti dedaunan yang rontok untuk membersihkan
halaman masjid ini. Namun, bukan itu saja yang membuatku
bersedih. Setiap saat memungut selembar daun, aku
membacakan shalawat bagi beliau. Kini tak ada lagi

kesempatan bagiku untuk menyatakan cintaku kepadanya
....”
***

M

enurut Ibn ‘Arabi, puncak kemuliaan manusia–sesuai
dengan hadis takhallaqû bi akhlâq Allah—adalah
berakhlak dengan akhlak Allah. Dan Muhammad Saw.
adalah manifestasi puncak dari akhlak Allah. Suatu kali,
ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, Siti ‘A’isyah
menyatakan, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran.” Padahal,
bukanlah Al-Quran adalah manifestasi sempurna Allah Swt.
dalam bentuk firman?
Kiranya hal ini terkait erat dengan kenyataan bahwa
tajalli (teofani, manifestasi) Allah yang paling sempurna
adalah dalam Muhammad Saw. yang dalam hadis
dikatakan, “Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah
(Nur) Muhammad.” Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi
dinyatakan bahwa: “Kalau bukan karenamu (Muhammad)
maka Aku tak akan menciptakan alam ciptaan ini.”
Dengan kata lain, kesempurnaan alam semesta
diwujudkan oleh Allah dengan mengambil (kepribadian)
Nabi Saw. sebagai modelnya. Memang sesungguhnya alam
semesta diciptakan dalam citra Allah. Dalam pandangan
Ibn ’Arabi, alam ini terwujud berkat manifestasi “gagasangagasan Ilahi” yang disebut sebagai al-a’yan al-tsabitah
(esensi-esensi permanen) yang menjadi bagian kesatuan
wujud Allah Swt.: Kemudian akan kami tunjukkan tandatanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka,
sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran. (QS
Fushshilat [41]: 53)
Dan Nabi Muhammad menggabungkan semuanya itu di
dalam dirinya. Ya! Meski sesungguhnya semua manusia

diciptakan sebagai model alam semesta—alam adalah
makrokosmos (al-’alam al-kabir, jagad gede) dan manusia
adalah mikrokosmos (al-’alam al-saghir, jagad cilik), Nabi
Saw. adalah mikrokosmos yang paling sempurna
merepresentasikan
segenap
ciptaan-Nya.
Itu
juga
sebabnya, mengapa Nabi disebut sebagai al-insan al-kamil
(manusia paripurna) sedemikian, sehingga Allah sendiri
bersama para malaikatnya ber-shalawat atasnya, lalu
memerintahkan orang-orang beriman untuk ber-shalawat
pada beliau juga.
Apa inti kesempurnaan Nabi itu? Allah sendiri
menyebutnya: Sungguh engkau (Muhammad) berada di
atas akhlak yang agung. (QS Al-Qalam [68]: 4) Dan jika kita
simpulkan semuanya itu, kita dapat menyatakan bahwa
letak kesempurnaan Muhammad Saw. adalah bahwa
akhlaknya adalah akhlak Allah (al-takhalluq bi akhlaq
Allah).
Pernah suatu kali seseorang meminta kepada Sayidina Ali
untuk menggambarkan akhlak Nabi. Sayyidina Ali berkata,
“Allah melukiskan keindahan dunia dengan menyebutkan,
katakanlah, sesungguhnya keindahan dunia ini kecil saja”.
Akan tetapi, bagaimana Allah menggambarkan akhlak Nabi
Saw. Allah berfirman, Dan sesungguhnya Engkau
(Muhammad) memiliki akhlak yang agung. Demikian
penjelasan Sayyidina Ali.
Pada gilirannya, apa inti akhlak Nabi itu? Cinta dan kasih
sayang, persis seperti akhlak Allah. Di dalam kitab suciNya, Dia kabarkan: Dan hanya karena rahmat dari Allah
maka Engkau bersikap lembut kepada mereka. Dan kalau
saja Engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya
mereka semua sudah menjauh darimu. (QS Al-Imran [3]:
159) Namun, di atas segalanya, akhlak Nabi mengambil
bentuk solidaritas kemanusiaan pada tingkat yang paling

tinggi: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang
rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang
terhadap orang-orang mukmin. (QS Al-Taubah [9]: 128)
Hidup Nabi memang dipenuhi concern (keprihatinan)
kepada manusia. Penderitaan manusia selalu dirasakannya
sebagai beban. Dia menginginkan manusia bebas dari
masalah-masalah yang menimpa mereka. Sebaliknya, dia
terus berharap dan berupaya agar setiap manusia bisa
hidup bahagia. Sedemikian, sehingga sejak sangat muda
Muhammad
Saw.
dia
sudah
menjadi
tumpuan
masyarakatnya. Bahkan sebelum usia perkawinannya, dia
sudah melakukan tapa (khalwat), demi mencari solusi bagi
kejahiliyahan kaumnya. Maka, setelah menjadi Nabi dan
Rasul, seluruh hidupnya dibaktikan bagi kesejahteraan
sesamanya. Tak ada sisa bagi diri dan keluarganya hingga
di pembaringan-kematiannya, yang dia seru hanya,
“Ummatku ..., ummatku .... Apa yang akan terjadi atas
mereka sepeninggalku.” Kelak di akhirat pun, ketika
kekhawatiran
oleh
bayangan
perhitungan
Tuhan
mencengkram semua manusia, ketika bahkan para ibu
akan mencampakkan bayi-bayi mereka, Muhammad Saw.
tetap hanya akan memikirkan umatnya. Di atas sebuah
bukit dia akan memanggil ke sana-kemari. “Halummahalumma ... ke sinilah kalian, datanglah kepadaku agar
kalian semua mendapatkan syafaatku. Terhindar dari
hukuman-Nya, dan masuk surga semua saja.” Sedemikian,
sehingga dia sendiri meringkaskan semuanya: ”Cinta
adalah asasku”.
Kiranya, semua sifat penuh kasih dan kelembutan itu
adalah suatu kenyataan logis mengingat Tuhannya
Muhammad Saw. telah berfirman: Kami tidak mengutus
engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh alam. (QS Al-Anbiya [21]: 107) Dia adalah utusan

Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia adalah penopang
dan pemelihara alam keseluruhan. Lebih dari itu semua,
dialah sang insân kâmil (manusia paripurna), perwujudan
sempurna sifat-sifat (kasih sayang) Allah Swt.
Dialah exemplar par excellence Allah Swt. Dialah pintu
gerbang bagi kita untuk dapat kembali kepada-Nya.
Dengan mengikutinya dan menjadikannya teladan, maka
sesungguhnya kita sedang menjalani proses pendakian
spiritual untuk mengembangkan al-takhalluq bi akhlaq
Allah (berakhlak dengan akhlak Allah) Mencintainya adalah
mencintai Allah, mencintai Allah adalah mencintainya.
Persis seperti firman Allah Swt. yang diajarkan kepadanya,
Barangsiapa mencintai Allah, ikutilah aku. Maka Allah akan
mencintai kalian ....[]

12
Tali Cinta Manusia

Di malam hari, ia mendengarkan kata-kata ibunya yang
berdiri menghadap kiblat di sudut kamarnya. Dengan penuh
perhatian, ia mengamati ibunya shalat; bersujud, ruku’,
duduk, pada Jumat malam itu. Ia masih kanak-kanak; ia
melihat dan mendengarkan ibunya berdoa untuk seluruh
Muslim, pria dan wanita, menyebut nama-nama mereka dan
meminta agar Allah menganugerahkan rezeki, kebahagiaan,
dan
rahmat
pada
mereka.
Dengan
saksama
ia
mendengarkan, apakah ibunya menyebut dan meminta
sesuatu dari Allah untuk dirinya sendiri?
Anak itu adalah Imam Hasan yang terjaga hingga pagi,
tak melepaskan tatapannya dari sang ibu, Siti Fatimah.
Ia menanti-nanti, apakah ibunya akan berdoa untuk
dirinya sendiri dan apa yang akan dimintanya dari Allah
Swt.?
Fajar pun menyingsing dan malam berlalu dengan shalat
dan permohonan bagi orang lain, namun Imam Hasan a.s.
tak mendengar sepatah kata pun dari doa sang ibu, yang
ditujukan untuk dirinya sendiri.
Di pagi itu ia bertanya, “Ibu! Semalam aku mendengar
doa di sepanjang shalatmu. Ibu berdoa untuk orang lain dan
tidak meminta sama sekali untuk diri sendiri?”

Ibunya yang penuh kasih menjawab, “Anakku sayang,
pertama adalah tetangga, baru rumah kita.”
***

T

ali cinta manusia dengan manusia lainnya dalam Islam
diungkapkan dengan istilah silaturahim. Ungkapan
silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata
shilâh dan rahim. Kata shilâh berakar dari kata yang
berarti menyambung dan menghimpun. Ini berarti bahwa
hanya yang putus dan yang terseraklah yang dituju oleh
kata shilâh. Sedangkan kata rahîm pada mulanya berarti
kasih sayang, kemudian berkembang sehingga berarti pula
peranakan (kandungan) karena anak yang dikandung selalu
mendapatkan curahan kasih sayang.
Terkait dengan ini Rasulullah Saw. bersabda, “Allah Azza
wa Jalla berfirman, ’Aku Al-Rahîm (Yang Maha Pengasih),
Aku telah menciptakan rahim yang Aku ambilkan dari
nama-Ku. Barangsiapa menjalin hubungan silaturahim, Aku
akan
menyambungkan
hubungan
dengannya,
dan
barangsiapa memutus hubungan silaturahim, Aku akan
putuskan hubungan dengannya.”
Pernah pula dikisahkan bahwa pada suatu kesempatan
seorang Arab Badui menghadang Nabi Saw. Di tengah
salah satu perjalanannya, lalu berkata, “Ceritakanlah
kepadaku hal-hal yang mendekatkan aku ke surga dan
menjauhkan aku dari neraka.” Nabi Saw. Menjawab,
“Sembahlah Allah dan janganlah engkau menyekutukanNya dengan apa pun, dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan
sambunglah silaturahim.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Begitu pentingnya silaturahim ini sehingga di dalam kitab
suci-Nya Dia berfirman: Orang-orang yang melanggar
perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan
memutuskan apa (silaturahim) yang diperintahkan Allah

(kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat
kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang
rugi. (QS Al-Baqarah [2]: 27) Silaturahim sering dipahami
sebagai menjaga atau memelihara relasi yang baik, bahkan
sekadar saling kunjung-mengunjungi atau menjalin
komunikasi dengan berbagai macam cara. Makna
silaturahim sesungguhnya jauh lebih luas dari itu.
Silaturahim bermakna semua upaya untuk berbuat baik—
beramal salih—kepada orang. Silaturahim adalah semua
perbuatan yang kita lakukan untuk membahagiakan orang,
khususnya membantu melepaskan orang-orang dari bebanbeban yang menyengsarakan mereka. Dan ini pun tak
hanya terbatas pada keluarga atau kaum-kerabat. Meski
Islam menekankan agar kita mendahulukan kerabat dan
kaum keluarga, silaturahim tidak berhenti sampai di situ
saja. Perbuatan baik dalam kerangka silaturahim ini harus
meluas kepada manusia seluruhnya, bahkan segenap unsur
alam semesta.
“Apakah Islam yang paling baik itu?” Suatu kali Nabi
Saw. ditanya. Nabi Saw. menjawab, “Islam yang paling baik
adalah memberi makan orang yang lapar dan menebarkan
kedamaian di tengah orang-orang yang kaukenal maupun
yang asing.”
Sedemikian pentingnya silaturahim seperti ini sehingga,
di suatu kesempatan, Nabi mengajarkan kepada kita:
“Berjalan bersama orang yang memiliki hajat (keperluan
atau kesulitan, dan berusaha membantunya) lebih aku
sukai ketimbang shalat 1.000 raka’at di masjidku, di Bulan
Ramadhan Pada gilirannya, menjalin tali silatuurahim
dalam
wujud
amal-amal
saleh
yang
membantu
memecahkan kesulitan manusia seperti ini justru dapat
terus memperkuat jalinan kasih sayang di antara manusia.

Bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
Yang Maharahim akan menanamkan di hati mereka
kasih-sayang. (QS Maryam [19]: 96) Pernah pula suatu
kali Allah swt. bertanya kepada Nabi Musa a.s., ”Wahai
Musa, mana ibadahmu untuk-Ku?” Nabi Musa a.s.
menjawab, “Sesungguhnya ibadahku adalah untuk-Mu,
ya Allah!”. “Tidak, wahai Musa!” Allah Swt. menjawab,
“sesungguhnya ibadah-ibadahmu itu adalah untukmu
sendiri.” Musa a.s. pun bertanya, “lalu, apakah
ibadahku untuk-Mu, ya Allah?” Allah menjawab,
“memasukkan rasa bahagia ke dalam diri orang yang
hancur hatinya.”
Suatu kali sahabat mendengar Nabi Muhammad Saw.
bersabda, “Orang-orang yang saling mencinta karena
mengakui kebesaran-Nya, hidupnya akan penuh cahaya,
sehingga bahkan para nabi dan syuhada iri kepadanya.”
Memang, “Tak akan masuk surga ..., kecuali kalian saling
mencinta,” begitu dinasihatkannya.
Dalam nasihat Nabi Saw. kepada sahabat yang
dijadikannya Gubernur Mesir, Malik Al-Asytar, Imam ‘Ali
menyatakan, “Insafkan hatimu agar selalu memperlakukan
rakyatmu dengan kasih sayang, cinta, dan kelembutan hati.
Jangan kaujadikan dirimu laksana binatang buas lalu
menjadikan mereka sebagai mangsamu. Mereka itu (apa
pun keyakinan agamanya) sesungguhnya hanya satu di
antara dua: saudaramu dalam agama atau makhluk Tuhan
sepertimu.”
Memang cinta dan kasih sayang identik dengan dorongan
untuk selalu memberi, bukan menuntut. Mencintai adalah
sebuah prinsip menempatkan kebutuhan dan kepentingan
kita di bawah (atau setelah) kebutuhan dan kepentingan
orang yang kita cintai. Bahkan karena cinta, kita rela
mengesampingkan kebutuhan dan kepentingan kita demi

terpenuhinya kebutuhan dan kepentingan orang yang kita
cintai. Inilah filosofi dasar cinta dan kasih sayang. Dalam
Al-Quran Allah berfirman: Dan mereka mengutamakan
(orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka
sendiri memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah
orang-orang yang beruntung. (QS Al-Hasyr [59]: 9) Dengan
memberi dan berbuat baik pada manusia, kita pun akan
mendapatkan
cinta-Nya.
Nabi
Saw.
bersabda,
“Sesungguhnya umat manusia adalah kerabat Allah. Maka
barangsiapa mencintai Allah, dia akan mencintai kerabatNya.” Akhirnya, dalam kesempatan lain, Nabi Saw.
bersabda: “Aku melihat sebuah hubungan persaudaraan
yang menggantung di ’Arsy (Singgasana Allah), mengeluh
di hadapan Allah mengenai seseorang yang telah
memutuskannya. Aku bertanya kepada Jibril; ‘Pada berapa
generasi di atasnyakah mereka yang bertemu?’ Jibril
menjawab, ‘Tujuh Generasi’.”
Kata “tujuh” dalam ungkapan bahasa Arab dipakai untuk
menunjukkan sesuatu yang banyak. Dalam hadis ini ia
dipakai untuk menunjukkan betapa kita perlu berbuat baik
kepada semua orang, seberapa pun jauh ia dipisahkan dari
kita dalam hubungan kekerabatan.[]

13
Cinta Lelaki-Perempuan

Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah memendam rasa cinta
yang begitu besar kepada Ummu Sulaim, dan memutuskan
untuk meminangnya. Namun, meski Ummu Sulaim berkata
dengan sopan dan rasa hormat di luar dugaan, jawaban
Ummu Sulaim sungguh menyesakkan dada.
“Sesungguhnya aku tidak pantas menolak orang yang
seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya, sayang, engkau
seorang kafir dan aku seorang muslimah. Maka, tak pantas
bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa
keinginanku?”
“Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan,” kata Abu
Thalhah.
“Sedikitpun
aku
tidak
menginginkan
dinar
dan
kenikmatan. Yang aku inginkan hanya engkau segera
memeluk agama Islam,” tukas Ummu Sualim tandas.
“Tetapi, aku tidak mengerti siapa yang akan menjadi
pembimbingku?” tanya Abu Thalhah.
“Tentu saja pembimbingmu
sendiri,” tegas Ummu Sulaim.

adalah

Rasululah

Saw.

Maka, Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai
Rasulullah Saw. yang tengah duduk bersama para sahabat.
Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru,

“Abu Thalhah telah datang kepada kalian dan cahaya Islam
tampak pada kedua bola matanya.”
Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa
mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim
hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa
sedikit pun tergiur oleh kenikmatan yang dia janjikan.
Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu
asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa
terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah
mengulang-ulang kalimat, “Saya mengikuti ajaran Anda,
wahai Rasulullah. Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang
berhak disembah, kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusan-Nya.”
Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah,
sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga
Tsabit—seorang perawi hadis—meriwayatkan dari Anas,
“Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita
yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu
keislaman suaminya.”
***

Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan
dijadikannya di antaramu rasa cinta dan belas-kasih.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS AlRûm [30]: 21) alam ayat yang dikutip di atas, Allah
menyebut perkawinan sebagai tanda-tanda-Nya.
Maka,
kita
pun
bertanya,
tanda-tanda
apa?
Sesungguhnya apa saja yang baik, yang benar, dan yang
indah adalah tanda-tanda Allah—yang Dia sendiri
adalah yang Mahabaik, Mahabenar, dan Mahaindah.

D

Akan tetapi, tak ada tanda Allah yang lebih agung
daripada cinta. Karena sesungguhnya, yang merangkum
semua sifat Allah adalah cinta. “Tuhan adalah Cinta”,
demikian disabdakan dalam sebuah hadis. Nah, sebelum
melanjutkan diskusi ini, Allah sendiri telah memberikan
isyarat terhadap pertanyaan di atas dengan firman-Nya
yang lain: Dan segala sesuatu kami jadikan berpasangpasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.
(QS Al-Dzâriyât [51]: 49) Kata “berpasang-pasangan”
adalah terjemahan dari kata azwâj, yang berakar-kata
sama dengan kata zawâj (berarti perkawinan). Makna
asli kata ini adalah “bergabung menjadi satu,
menggenapkan”. Dengan kata lain, sebelum terjadi
pemasangan, unsur-unsur yang terlibat belumlah genap,
yakni masih merupakan pecahan. Terkait dengan
makhluk
manusia,
“kebelum-genapan”
atau
“keterpecahan” ini membuatnya selalu rindu untuk
mendapatkan unsur lain penggenapnya, yang dengan
demikian menjadikan dirinya tak lagi belum genap atau
terpecah.
Nah, kerinduan seorang laki-laki terhadap seorang
perempuan, dan sebaliknya, adalah tanda (sekaligus
pengingat) bagi kerinduan yang seharusnya hadir dalam
hubungan manusia dengan Allah Swt. Cinta Allah kepada
manusia dan alam semesta, serta cinta manusia kepadaNya. Cinta yang tulus, yang berintikan kebahagiaan dalam
berbakti kepada yang dicintai, dan seharusnya tercipta
dalam perkawinan akan memberikan kilasan tentang cinta
dan kerinduan yang seharusnya mewarnai hubungan setiap
makhluk dengan Sumbernya.

Sesungguhnya orang-orang beriman itu amat dalam
cintanya kepada Allah. (QS Al-Baqarah [2]: 165)
Memang, Allah Swt. telah menciptakan manusia dengan
fitrah kecintaan kepada-Nya. Bukankah, manusia

menyimpan di dalam dirinya tiupan Ruh-Nya, bagian
Diri-Nya? Maka, seperti tetesan-tetesan air, entah itu air
sungai, air hujan, atau embun pagi, ia selalu rindu
untuk kembali ke laut, sumbernya. Sesungguhnya, yang
benar-benar merupakan soul mate (belahan jiwa)
manusia adalah Allah Swt. Hanyalah bungkusan aspek
fisik manusia dan keterikatan dengan badan yang terus
didorong-dorong oleh nafsu saja yang menyebabkannya
lupa kepada Kekasih-sejatinya ini.
Sekali lagi, perkawinan, pemujaan, dan cinta-kasih yang
tulus, yang seharusnya terkembang dalam sebuah
perkawinan yang baik adalah tanda hubungan pemujaan
dan penuh kasih antara manusia dan Allah Swt. Sebuah
penanda yang pada gilirannya, semestinya dapat
mengingatkan setiap laki-laki atau perempuan yang saling
mencinta itu akan cinta sejatinya.
Jadi, perkawinan dalam Islam memiliki nilai spiritual
yang amat mendalam, bukan saja karena ia adalah
tindakan menyalurkan syahwat dalam bingkai aturan
syari‘ah, bahkan juga bukan hanya sebuah bentuk
hubungan kasih sayang yang memang dianjurkan Islam.
Jauh lebih dalam dari itu, perkawinan adalah tanda Allah
yang melaluinya, manusia diingatkan akan hubungan
penuh kecintaan-nya dengan Kekasih-sejatinya itu.
Ini sebabnya Rasulullah Saw. menyatakan, “Tiga hal dari
duniamu telah dibuat menyenangkan bagiku, yakni
perempuan, wewangian, dan shalat. (Tetapi) cahaya
mataku terdapat dalam shalat.” Dia menyebut shalat
terakhir karena shalat adalah tujuan dari ketiganya.
Artinya, perempuan (istri) dan wewangian menenangkan
serta memperkuat hati5 yang dengan kekuatan hati itu,
beliau menyibukkan diri dengan (ibadah) shalat dan
mendapatkan cahaya-mata (kecintaan)-nya di situ.

Selain sebagai sarana manusia untuk beranak-pinak agar
para pelakunya melalui kehidupan dunia ini di jalur agama,
ia juga adalah sarana mendapatkan ketenteraman dan
ketenangan. Akan tetapi, di atas segalanya, ia adalah
sarana untuk mencapai puncak tujuan kehidupan, yakni
beribadah kepada Allah dan memujanya, sesuai dengan
firman-Nya dalam QS Al-Dzâriyât [50]: 56: Dan tak kami
ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.6[]

2 “Awal” di sini tentu maksudnya bukanlah awal dalam
waktu serial (zaman) karena Tuhan tidak terikat waktu. Dia
tak pernah berubah. Awal di sini terkait dengan sifatnya
sebagai sumber, asal-muasal segala sesuatu, yang selalu
dalam keadaan yang sama dan tak pernah berubah.
3 Penafsiran ini—yakni mengartikan kata “ma” (apa-apa)
sebagai
kebaikan—dipilih
dengan
merujuk
secara
perbandingan (muqâran) dengan ayat berikut ini.

Sesungguhnya Allah tak sekali-kali merusak nikmat yang
telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, kecuali jika
kaum itu merusak apa yang ada dalam diri mereka. (QS
Al-Anfâl [8]: 53)
4 Siksa Kekal Abadi pun sesungguhnya bisa ditafsirkan
sebagai suatu perasaan (kesedihan) kejiwaan yang timbul
dari perasaan ketiadaan harapan bagi membaiknya
keadaan, atau suatu perasaan hampa psikologis, perasaan
ketiadaan makna hidup sebagaimana dialami penderita
depresi. Persis seperti dalam firman-Nya: Dan adakah yang
membuatmu tahu tentang huthamah. Itulah api Allah yang

menyala. Yang jilatannya sampai ke hati .... (QS AlHumazah [104]: 5-7)
5 Menurut Al-Ghazali, hati manusia memperoleh ketenangan
dan keintiman bercengkrama dengan pasangannya.
Ketenangan ini dapat meningkatkan hasrat untuk
beribadah karena kegiatan untuk beribadah dapat
menguras
tenaga
dan
menimbulkan
kelelahan.
Ketenangan yang diperoleh dengan cara ini memulihkan
kekuatan hati. Sayyidina ‘Ali r.a. berujar, “Jangan
sepenuhnya menghilangkan kerehatan dan ketenangan
hati agar ia tak menjadi buta.”
Kadang terjadi, jiwa Rasulullah merasakan beban berat
ketika menerima wahyu, dan beliau Saw. akan memegang
tangan ‘Aisyah dan berkata, “Bicaralah kepadaku,
‘Aisyah.” Kemudian, beliau mendapatkan kembali
kekuatannya maka kehausan untuk melanjutkan dakwah
dan beribadah kepada Allah akan menguasainya kembali,
dan beliau akan berkata, “Buat kami senang, wahai Bilal,”
dan beliau pun akan kembali melakukan shalat.
6 Ada perbedaan penting antara seorang pemikir Sufi seperi
Imam Al-Ghazali dan seorang ‘arif seperti Ibn ‘Arabi. Meski
melihat manfaat perkawinan sebagai sarana penghiburan,
Imam Al-Ghazali cenderung melihat hubungan seksual
suami-istri sebagai sah, sejauh untuk menyalurkan
syahwat yang memang diciptakan Allah dalam rangka
kebutuhan manusia untuk beranak-pinak—bukan untuk
sepenuhnya memuaskannya. Berbeda dengan itu, Ibn
‘Arabi bahkan lebih jauh melihat bahwa hubungan seksual
suami-istri yang terjadi di dalamnya, ketika ia berlangsung,
sebagai hubungan seksual murni yang—meski pada
puncaknya adalah kesadaran ketuhanan yang lebih kuat—
bertujuan mendatangkan kebahagiaan (baca: kenikmatan)
yang luar biasa. Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabi menyatakan

bahwa kuasa kenikmatan (qahr al-ladz-dzah) seksual yang
mendominasi, menundukkan, dan membuat tak berdaya
pelakunya mengajarkan kepada keduanya perasaan
’ubudiyah (kehambaan atau ketundukan) manusia kepada
Allah. Yakni, ’ubudiyyah yang pada puncaknya sejalan
dengan makna ayat tentang penciptaan manusia yang
dikutip di atas. Inilah juga rahasia mengapa Allah
menggambarkan kebahagiaan di surga, antara lain dalam
bentuk kenikmatan seksual. Jika kita ikuti pandangan Ibn
’Arabi ini, hal ini sekaligus memberi tahu kita bahwa,
sebaliknya dari melihat hubungan seksual (suami-istri)
sebagai sesuatu yang tabu. Islam memandangnya sebagai
sesuatu yang sakral. (memang, Islam hanya melihat
hubungan seksual sebagai sesuatu yang buruk jika ia
dilakukan tidak dalam bingkai syari’ah. Karena, siapa yang
dapat mengatakan bahwa hubungan seksual adalah buruk
jika ia dilandasi cinta yang tak kurang-kurang bersifat
spiritual?).

Lampiran 2:

Mahabbah, Syawq, Musyâhadah,
Mukâsyafah, Mawâ‘izh, dan Zawâjir1
—Al-Ghazali

Mahabbah (Cinta)
Mahabbah (cinta) itu—pertama-tama—ada dan berlaku
di antara Allah dan para walinya. Al-Quran telah
mengisyaratkan hal itu. Allah Swt. Berfirman, Adapun
orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah
(QS Al-Baqarah [2]: 165). Allah mencintai mereka dan
mereka pun mencintai-Nya (QS Al-Mâidah [5]: 54).
Jika Anda berkata dan nafsu Anda yang buruk itu
memberontak, “Bagaimana engkau mencintai orang yang
tidak engkau lihat dan ia bukan dari jenismu?”
Sesungguhnya Anda mencintai Sang Pencipta melalui
keindahan
ciptaan-ciptaan-Nya
yang
tampak.
Perhatikanlah tanah yang luas beserta isinya berupa
berbagai lukisan indah, sayuran, pepohonan, buahbuahan, dan sungai-sungai. Lihatlah angkasa dan
seisinya berupa pergantian siang dan malam; matahari,
bulan, serta planet-planet yang besar dan yang kecil. Ini
semua merupakan tanda-tanda ciptaan Pencipta dan
bukti keabadian Keberadaan-Nya. Mahasuci Tuhan Yang
Mencipta segala ciptaan. Bahkan, diri Anda akan takjub
manakala Anda memikirkan yang lebih agung dari yang

Anda lihat dan Anda dengar. Yang menunjukkan kepada
Anda sebagai bukti terkuat dalam kecintaan kepada-Nya
adalah kenikmatan orang yang mendengarkan kalamNya. Sebab, ia merupakan mukjizat yang tiada
bandingannya. Dengan itu, ditunjukkan kecintaan kepada
Yang Maha Berbicara. Tidaklah Anda pernah mendengar
syair berikut:

Ka‘ab berkata kepada teman-temannya
wahai kaumku, betapa menakjubkan jiwa ini
apakah manusia cinta pada yang tak terlihat
maka kukatakan, dan air mataku meleleh
Jika mataku tak melihat sosoknya
tetapi ia terbayang di dalam kalbu

Syaikh Abû Al-‘Ala’ Al-Ma’arî mendendangkan syair:

Wahai kaum, kupingku mencintai makhluk
kadang kuping jatuh cinta sebelum mata
Jika mata yang di depannya menjadi sakit
ia membunuh kita dan tak menghidupkan lagi
membanting orang yang berakal hingga tak berkutik
padahal ia ciptaan Allah yang paling lemah

Adapun hadis-hadis yang menunjukkan pada hal itu
amatlah banyak. Saya telah menyebutkan di dalam Ihyâ’
‘Ulûmiddîn. Sebagai isyarat dari sejumlah itu, saya
sebutkan beberapa hadis saja.
Di dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa Allah Swt.
berfirman, “Berdusta orang yang mengaku mencintai-Ku,

yaitu orang yang apabila malam telah gelap, dia tidur
(lalai) dari-Ku.” Di dalam hadis lain disebutkan bahwa
Allah Swt. berfirman, “Hamba-Ku yang mukmin
senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadahibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku
telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang
dengannya dia mendengar dan menjadi penglihatannya
yang dengannya dia melihat.”
Ketahuilah bahwa hubb (cinta) dan ‘isyq (kerinduan)
adalah satu makna. Yang utama di dalam hal itu adalah
cinta membara seseorang kepada kekasihnya, yaitu
pandangan yang menganggap baik segala hal karena api
cinta yang menembus pikiran hingga mengobarkan api
mujâhadah. Lalu, muncul asapnya di balik bagian
belakang otak, tampak isyarat-isyarat pikiran tentang
cinta dari bagian depan ubun-ubun dan terbuka pintupintu kekosongan kalbu. Dudukkanlah khayalan kekasih
di depan ‘ayn al-yaqin. Jiwa mengkilapkan cermin
mujâhadah (perjuangan melawan hawa nafsu) di dalam
memandang keindahan kekasih.
Asalnya di dalam mahabbah adalah kebersamaan,
keakraban, dan kepercayaan pada ucapan kekasih. Ketika
itu, keinginan pendambaan berkobar dengan nyala api
kerinduan. Lalu, keadaan ‘isyq mengalahkannya. Jadilah,
di jalan-jalan itu, dia tergila-gila pada sesuatu yang
menjadi cahaya melankolis. Ucapan bercampur aduk,
rongga tenggorokan terbakar, dan langit kalbu tertutup
karena penampakan rembulan kekasih. Kekasih itu tetap
merindukan, mencintai, dan kebingungan terhadap
penampakan keagungan kekasih. Ketika rongga-rongga
tenggorokan itu terbuka, pasangan mempelai kalbu
berhamburan dan pasangan angan-angan menari di
majelis keintiman (al-wishâl). Seruling harapan ditiup

dan kecapi harap-harap cemas dipetik, sebagaimana
dikatakan penyair:

Kuharapkan hingga ia terbayang
aku bimbang seakan telah memanggil,
tetapi ia tetap diam
Kuharapkan hingga ia kuimpikan
jangan kalian lupa bahwa Allah mengampuni
dan celalah jika kalian shalat di tempat ia shalat
Alangkah baiknya jika aku jadi batu dinding masjid
sungguh mulia karena di situ ia shalat dan berkuasa
Kemudian, debu bergerak, Anda melihat asap harapan.
Asap kepayahan menguat, Anda melihat kebimbangan di
dalam kalbu. Di sana, tidak ada ratapan dan tidak pula
ketenangan. Tampak kekurusan dan kepucatan. Terlihat
bekas-bekas keterjagaan. Api kerinduan menyebabkan
badan kurus. Al-Mughnî melantunkan syair:

Wajah orang yang jatuh cinta sudah dikenal
sebab ia pucat dan kurus
Tak seperti yang menampakkan tubuhnya
seakan hewan untuk sembelihan
Di dalam sebuah hadis disebutkan, “Pada setiap malam,
seorang penyeru menyeru, ‘Ketahuilah, bahwa Allah
melaknat orang yang banyak makan dan banyak tidur.’
Apakah anak Adam diciptakan untuk itu?” Merasa
cukuplah dengan yang sedikit